Namaku Jackie dan tentunya bukan nama asliku. Aku adalah pria yang kurang beruntung, karena sudah dua kali ingin berniat untuk berkeluarga dan dua-duanya gagal. Aku berasal dari Indonesia, tapi sudah lama sekali tinggal di negerinya “kanguru”. Dan atas saran teman-teman, maka aku mensponsori seorang cewek dari Indonesia dengan niat untuk menikah. Tapi setelah wanita itu mendapatkan izin tinggal tetap di negeri ini, wanita itu meninggalkan aku. Begitu juga dengan yang kedua, yang berasal dari Amerika Latin. Nah, karena rumah yang kumiliki ini mempunyai dua kamar dan karena aku hanya tinggal sendiri sekaligus sudah kapok untuk mencari pasangan lagi, maka kamar yang satunya aku sewakan pada seorang pelajar (cowok) dari Jepang. Namanya Gamhashira. Gamha yang playboy ini sudah dua hari pulang ke negerinya untuk berlibur setelah menamatkan SMA-nya.
Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain internet, tiba-tiba terdengar suara bel. Setengah kesal aku hampiri juga pintu rumahku, dan setelah aku mengintip dari lubang kecil di pintu, kulihat tiga orang gadis. Kemudian kubuka pintu dan bertanya (maaf langsung aku terjemahkan saja ke bahasa Indonesia semua percakapan kami)
“Bisa saya bantu?” kataku kepada mereka.
“Maaf, kami sangat mengganggu, kami mencari Gamha dan sudah satu jam lebih kami coba untuk telepon tapi kedengarannya sibuk terus, maka kami langsung saja datang.”
Yang berwajah Jepang nyerocos seperti kereta express di negerinya.
“Oh, soalnya saya lagi main internet, maklumlah soalnya hanya satu sambungan saja telepon saya,” jawabku.
“Memangnya kalian tidak tahu kalau si Gamha sedang pulang kampung dua hari yang lalu?” lanjutku lagi.
Kali ini yang bule berambut sebahu dengan kesal menjawab, “Kurang ajar si Gamha, katanya bulan depan pulangnya, Jepang sialan tuh!”
“Eh! Kesel sih boleh, tapi jangan bilang Jepang sialan dong. Gua tersinggung nih,” yang berwajah Jepang protes.
“Sudahlah, memang belum rejeki kita dijajanin sama si Gamha,” sekarang bule bermata biru nyeletus.
Dengan setengah bingung karena tidak mengerti persoalannya, kupersilakan mereka untuk masuk. Mulanya mereka ragu-ragu, akhirnya mereka masuk juga. “Iya deh, sekalian numpang minum,” kata bule yang berambut panjang masih kedengaran kesalnya.
Setelah mereka duduk, kami memperkenalkan nama kami masing-masing.
“Nama saya Jacky,” kataku.
“Khira,” kata yang berwajah Jepang (dan memang orang Jepang).
Yang berambut panjang menyusul, “Emily,” (Campuran Italia dengan Inggris).
“Saya Eve,” gadis bermata biru ini asal Jerman.
“Jacky, kamu berasal dari mana?” lanjutnya.
“Jakarta, Indonesia,” jawabku sambil menuju ke lemari es untuk mengambilkan minuman sesuai permintaan mereka.
Sekembalinya saya ke ruang tamu dimana mereka duduk, ternyata si Khira dan Eve sudah berada di ruang komputer saya, yang memang bersebelahan dengan ruang tamu dan tidak dibatasi apa-apa.
“Aduh, panas sekali nich?!” si Emily ngedumel sambil membuka kemeja luarnya.
Memang di awal bulan Desember lalu, Australia ini sedang panas-panasnya. Aku tertegun sejenak, karena bersamaan dengan aku meletakkan minuman di atas meja, Emily sudah melepaskan kancing terakhirnya. Sehingga dengan jelas dapat kulihat bagian atas bukit putih bersih menyembul, walaupun masih terhalangi kaos bagian bawahnya. Tapi membuatku sedikit menelan ludah. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara si Eve,
“Jacky, boleh kami main internetnya?”
“Silakan,” jawabku.
Aku tidak keberatan karena aku membayar untuk yang tidak terbatas penggunaannya.
“Mau nge-chat yah?” tanyaku sambil tersenyum pada si Emily.
“Ah, paling-paling mau lihat gambar gituan,” lanjut Emily lagi.
“Eh, kaliankan masih di bawah umur?” kataku mencoba untuk protes.
“Paling umur kalian 17 tahun kan?” sambungku lagi.
Khira menyambut, “Tahun ini kami sudah 18 tahun. Hanya tinggal beberapa bulan saja.” Aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Baru saja aku ngobrol dengan si Emily, si Eve datang lagi menanyakan, apa saya tahu site-nya gambar “gituan” yang gratis. Lalu sambil tersenyum saya hampiri komputer, kemudian saya ketikkan salah satu situs seks anak belasan tahun gratis kesukaanku. Karena waktu mengetik sambil berdiri dan si Khira duduk di kursi meja komputer, maka dapat kulihat dengan jelas ke bawah bukitnya si Khira yang lebih putih dari punyanya si Emily. Barangku terasa berdenyut. Setengah kencang. Setelah gambar keluar, yang terpampang adalah seorang negro sedang mencoba memasuki barang besarnya ke lubang kecil milik gadis belasan. Sedangkan mulut gadis itu sudah penuh dengan barang laki-laki putih yang tak kalah besar barangnya dengan barang si negro itu. Terasa barangku kini benar-benar kencang karena nafsu dengan keadaan. Si Emily menghampiri kami berada, karena si Eve dan Khira tertawa terbahak-bahak melihat gambar itu. Aku mencoba menghindar dari situ, tapi tanpa sengaja sikut Khira tersentuh barangku yang hanya tertutup celana sport tipis. Baru tiga langkah aku menghindar dari situ, kudengar suara tawa mereka bertambah kencang, langsung aku menoleh dan bertanya, “Ada apa?” Eve menjawab, “Khira bilang, sikutnya terbentur barangmu,” katanya.
Aku benar-benar malu dibuatnya. Tapi dengan tersenyum aku menjawab, “Memangnya kenapa, kan wajar kalau saya merasa terangsang dengan gambar itu. Itu berarti aku normal.” Kulihat lagi mereka berbisik, kemudian mereka menghampiriku yang sedang mencoba untuk membetulkan letak barangku. Si Eve bertanya padaku sambil tersipu,
“Jacky, boleh nggak kalau kami lihat barangmu?”
Aku tersentak dengan pertanyaan itu.
“Kalian ini gila yah, nanti aku bisa masuk penjara karena dikira memperkosa anak di bawah umur.”
(Di negeri ini di bawah 18 tahun masih dianggap bawah umur).
“Kan tidak ada yang tahu, lagi pula kami tidak akan menceritakan pada siapa-siapa, sungguh kami janji,” si Emily mewakili mereka.
“Please Jacky!” sambungnya.
“Oke, tapi jangan diketawain yah!” ancamku sambil tersenyum nafsu.
Dengan cepat kuturunkan celana sport-ku dan dengan galak barangku mencuat dari bawah ke atas dengan sangat menantang. Lalu segera terdengar suara terpekik pendek hampir berbarengan.
“Gila gede banget!” kata mereka hampir berbarengan lagi.
“Nah! Sekarang apa lagi?” tanyaku.
Tanpa menjawab Khira dan Emily menghampiriku, sedangkan Eve masih berdiri tertegun memandang barangku sambil tangan kanannya menutup mulutnya sedangkan tangan kirinya mendekap selangkangannya. “Boleh kupegang Jack?” tanya Khira sambil jari telunjuknya menyentuh kepala barangku tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya bisa menjawab, “Uuuh..” karena geli dan nikmat oleh sentuhannya. Sedang Eve masih saja mematung, hanya jari-jari tangan kirinya saja yang mulai meraih-raih sesuatu di selangkangannya. Lain dengan Emily yang sedang mencoba menggenggam barangku, dan aku merasa sedikit sakit karena Emily memaksakan jari tengahnya untuk bertemu dengan ibu jarinya. Tiba-tiba Emily, hentikan kegiatannya dan bertanya padaku, “Kamu punya film biru Jack?” Sambil terbata-bata kusuruh Eve untuk membuka laci di bawah TV-ku dan minta Eve lagi untuk masukan saja langsung ke video.
Waktu mulai diputar gambarnya bukan lagi dari awal, tapi sudah di pertengahan. Yang tampak adalah seorang laki-laki 60 tahun sedang dihisap barangnya oleh gadis belasan tahun. Kontan saja si Eve menghisap jarinya yang tadinya dipakai untuk menutup mulut sedangkan jari tangan kirinya masih kembali ke tugasnya. Pandanganku sayup, dan terasa benda lembut menyapu kepala barangku dan benda lembut lainnya menyapu bijiku. Aku mencoba untuk melihat ke bawah, ternyata lidah Khira di bagian kepala dan lidah Emily di bagian bijiku.
“Uuh.. sshh.. uuhh.. sshh..” aku merasa nikmat.
Kupanggil Eve ke sampingku dan kubuka dengan tergesa-gesa kaos dan BH-nya. Tanpa sabar kuhisap putingnya dan segera terdengar nafas Eve memburu.
“Jacky.. oohh.. Jacky.. teruss.. oohh..” nikmat Eve terdengar.
Kemudian terasa setengah barangku memasuki lubang hangat, ternyata mulut Khira sudah melakukan tugasnya walaupun tidak masuk semua tapi dipaksakan olehnya.
“Slep.. slep.. chk.. chk..”
Itulah yang terdengar paduan suara antara barangku dan mulut Khira. Emily masih saja menjilat-jilat bijiku.
Dengan kasar Eve menarik kepalaku untuk kembali ke putingnya. Kurasakan nikmat tak ketulungan. Kuraih bahu Emily untuk bangun dan menyuruhnya untuk berbaring di tempat duduk panjang. Setelah kubuka semua penghalang kemaluannya langsung kubuka lebar kakinya dan wajahku tertanam di selangkangannya.
“Aaahh.. Jacky.. aahh.. enak Jacky.. teruskan.. aahh.. teruss Jacky!” jerit Emily.
Ternyata Eve sudah bugil, tangannya dengan gemetar menarik tanganku ke arah barangnya. Aku tahu maksudnya, maka langsung saja kumainkan jari tengahku untuk mengorek-ngorek biji kecil di atas lubang nikmatnya. Terasa basah barang Eve, terasa menggigil barang Eve.
“Aaahh..” Eve sampai puncaknya.
Aku pun mulai merasa menggigil dan barangku terasa semakin kencang di mulut Khira, sedangkan mulutku belepotan di depan barang Emily, karena Emily tanpa berteriak sudah menumpahkan cairan nikmatnya. Aku tak tahan lagi, aku tak tahan lagi, “Aahh..” Sambil meninggalkan barang Emily, kutarik kepala Khira dan menekannya ke arah barangku. Terdengar, “Heerrkk..” Rupanya Khira ketelak oleh barangku dan mencoba untuk melepaskan barangku dari mulutnya, tapi terlambat cairan kentalku tersemprot ke tenggorokannya. Kepalanya menggeleng-geleng dan tangannya mencubit tanganku yang sedang menekan kepalanya ke arah barangku. Akhirnya gelengannya melemah Khira malah memaju mundurkan kepalanya terhadap barangku. Aku merasa nikmat dan ngilu sekali, “Sudah.. sudah.. aku ngiluu.. sudah..” pintaku. Tapi Khira masih saja melakukannya. Kakiku gemetar, gemetar sekali. Akhirnya kuangkat kepala Khira, kutatap wajahnya yang berlumuran dengan cairanku. Khira menatapku sendu, sendu sekali dan kudengar suara lembut dari bibirnya, “I Love you, Jacky!” aku tak menjawab. Apa yang harus kujawab! Hanya kukecup lembut keningnya dan berkata, “Thank you Khira!”
Rasa nikmatku hilang seketika, aku tak bernafsu lagi walaupun kulihat Eve sedang memainkan klitorisnya dengan jarinya dan Emily yang ternganga memandang ke arahku dan Khira. Mungkin Emily mendengar apa yang telah diucapkan oleh Khira. Demikianlah, kejadian demi kejadian terus berlangsung antara kami. Kadang hanya aku dengan salah satu dari mereka, kadang mereka berdua saja denganku. Aku masih memikirkan apa yang telah diucapkan oleh Khira. Umurku lebih 10 tahun darinya. Dan sekarang Khira lebih sering meneleponku di rumah maupun di tempat kerjaku. Hanya untuk mendengar jawabanku atas cintanya. Dan belakangan aku dengar Eve dan Emily sudah jarang bergaul dengan Khira.
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex. Tampilkan semua postingan
Cerita Sex : Pesta Sex Membara
Sabtu, 18 Oktober 2014
Diposting oleh
Memek Basah
di
10.10
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Sex
Cerita Sex : Polwan Yang Manis
Cerita Sex Polwan yang Manis, Kisah ini terjadi sekitar 2001 an, saat aku masih kuliah sambil cari kerja sampingan buat biaya kuliah. Kebetulan ada temen ibuku yang punya warnet di kota ini, jadi aku kerja nungguin warnet. Shift jaga biasanya malam, mulai jam 7 sampe jam 12 malam. Tapi kadang-kadang gentian sama teman-teman yang lain, tergantung situasi lah. Cerita sex terbaru dan terlengkap hanya ada di sexceritadewasa.com.
Saat itu aku jaga warnet malem sendirian, harusnya sih berdua, tapi biasa lah ada aja alesan untuk ngilang. Yang heran, tumben warnet sepi banget (padahal tahun2 segitu saat orang jarang punya modem sendiri, warnet ndak pernah sepi lho). Jadinya aku santai-santai sambil browsing materi kuliah, sambil slonjor-slonjor dan nyamil kacang.
Sekitar jam 9 ada suara motor berhenti diluar. Hah, akhirnya ada pengunjung juga. Pintu kemudian dibuka, Nampak cewek masuk, bodynya tinggi, wajahnya imut sih, rambut potong pendek dan pake jaket dan celana panjang.
“Mau nge-net ada mas?” tanyanya.
“Oh, silahkan mbak…, kosong kok. Bebas milih mana saja.” Jawabku ramah sambil melihat wajah imut tersebut.
“Makasih mas, saya dipojok situ aja” dia lalu menuju bilik yang pojok, terus nglepas sepatu dan duduk (bilik warnetnya lesehan semua). Aku lihat sepatunya sepatu kulit, kayak-kayaknya bukan cewek biasa nih. Setelah duduk, dia membuka jaket, ternyata dibalik jaketnya dia memakai seragam polisi, pangkatnya Segitiga Kuning satu biji, ohh Sersan Dua pangkatnya. Ohh.., seorang polwan yang manis pikirku.
“Mas, username ama passwordnya apaan nih??” tanyanya, sambil menoleh ke aku.
“Ehh.., ohh.., bebas kok mbak, langsung aja” kataku jadi sedikit gagap gara-gara terpana plus kaget..
“Okey mas, makasih”
Beberapa menit sambil browsing aku curi-curi lihat ke mbak polwan tadi. Lama-lama kok beberapa kali ketahuan lagi nyuri pandang. Akhirnya aku gak berani lagi ngliat dia. Konsentrasi aku alihkan ke monitor komputerku. Karena bosan dengan materi kuliah, aku mulai browsing situs-situs hot.
Setengah jam berlalu, tiba-tiba aku kaget saat mbak tadi sudah disampingku.
“Mas, ajari bikin email dong” katanya…
“ehh…,ehhhh…, ehhh iya” aku panic, karena monitorku isinya penuh gambar pasangan lagi adegan hot. “ayo mbak…, saya ajari” aku langsung berdiri dan mengajak mbak polwan tadi ke biliknya (supaya aku gak tengsin & terlalu lama salting didepan komputerku).
Aku mulai ngajari cara mbuat email dari dasar-dasarnya. Sambil lirak-lirik aku baca namanya, sebut saja Dewi . Dewi tampak antusias mendengar penjelasanku, kemudian mulai mencoba mempraktekkan langkah demi langkah. Aku masih grogi, bagaimana tidak, lha wong dia polwan… hiiiii. Tapi kayaknya dia yang berusaha mencairkan suasana.
“Mas sudah lama kerja diwarnet ya?” tanyanya
“Wah, baru kok mbak. Ini juga buat nambah-nambah biaya kuliah” jawabku sambil berusaha tersenyum, tapi masih kaku…. Shitt.
“wah, kok lancer banget gitu ya nge-netnya? Ehh, jangan panggil saya mbak dong. Nih, kan namaku udah terpampang jelas gini. Panggil Dewi aja ya? Kalo nama mas sapa?”
“Saya Andri mbak.., wah nggak berani manggil gitu mbak. Ngak sopan” Jawabku sambil menggerakkan mouse.
“Nggak papa kok, biar akrab. Lagian kayaknya kita seumuran ya. Aku dua puluh tiga tahun kok” paparnya blak-blakan, jarang yh cewek blak-blakan masalah umur
“Ya deh mbak, eh Dewi…, kalo saya baru dua puluh dua tahun mbak, tuaan mbak dikit dong, ngomong-ngomong kok masih pake baju dines. Habis tugas ya?” tanyaku sambil kesempatan buat mandang wajahya yang manis (buehhh…, betul-betul manis nihh)
“Iya habis ikut pengamanan di balaikota, tadi ka ada demo mahasiswi. Jadi Polwannya turun semua.”
“Ohh.., gitu. Lho mbak Dewi kok gak pulang kerumah? “ tanyaku lagi
“Nggak, tadi lihat warnet jadi pengin mampir. Sekalian belajar”
“Emang mbak Dewi rumahnya dimana?”
“Di perumahan ****, yahh agak jauh sih. “dia menjawab sambil tersenyum manis… wihhh.
“Lho, udah nikah ya mbak? (nanya nya mulai gak konsen gara-gara senyuman tadi)”
“Udah, nikah sih udah satu tahun. Suamiku sipil, kerja di expidisi. Tapi lagi ruwet nihh…, dia kecantol ama temen kerjanya, ini aku lagi ngurus cerai” katanya sambil sedikit serak.
“Ehm, maaf mbak. Lancang nanya.”
“Gak papa.., kalo mas sendiri?” Lhahh, dia balas nanya
“Belum mbak, pacar aja gak ada. Nanti-nanti lah”
“Ohh, padahal penampilan mendukung lhoh” dia menjawab sambil tersenyum lagi. Matek aku… panas dingin langsung. Apalagi tangannya sambil menyenggol bahuku… beuhhh.
“Ahh, mbak bisa aja. Ehh.., suami mbak terlalu juga ya. Mbak yang secantik ini di khianati…” agak nggombal dikit jawabanku
“Hahaha…, cantik gimana? Biasa aja ah” Sambil tangannya disenggolkan ke bahuku lagi. “Tapi, hatiku sedih sekali, makanya kadang kalo pulang kerja aku ndak langsung kerumah. Tapi jalan kemana dulu gitu”
“Lho, cantik betul lho mbak, manis tinggi langsing lagi…” entah darimana kata-kata ini kudapat, dia terlihat agak tersipu-sipu. Senyumnya makin mengembang.
“Ehmm.., makasih ya. Eh.., ngliat situs-situs yang kayak tadi dimana ya?” tanyanya agak malu-malu
“Ehhh.., yang mana ya mbak?” jawabku pura-pura bego
“Yang tadi itu lho, yang dikomputernya mas.”
“Ohh.., ehh gak papa ya mbak? Ini aku carikan alamatnya” aku mulai mengetik alamat, dan muncul gambar-gambar orang lagi bercinta berat. Aku lihat matanya menatap monitor penuh hasrat. “ini tinggal di klik link-link yang ada. Banyak kok nantinya” Sambil aku beranjak pergi, mau kembali ke tempat operator.
“Ehh, kemana mas? Temenin aku dong, siapa tau nanti ada kesulitan lagi.” Sambil tangannya meraih tanganku dan menarikku untuk duduk lagi. “Disini aja ya..” dan aku mengangguk pelan.
Kami berdua mulai browsing situs-situs xxx, dan aku merasa duduk makin merapat. Mata Dewi tak lepas dari monitor, nafasnya terdengar agak memburu (aku juga demikian sihh hehehehe…). Terasa tubuhku mulai bersentuhan dengannya, hangat dehh. Tangannya ditumpangkan kepahaku, membuat konty ku meluap meronta-ronta (waktu itu aku masih betul-betul perjaka… bayangkeunn), diusap-usap pahaku. Aku beranikan memeluk pinggangnya yang ramping dan aku rapatkan tubuhnya ke tubuhku.
“Mas, udah pernah kayak yang dikomputer ini ndak?” tanyanya pelan, agak berbisik. Wajahnya betul-betul rapat dengan wajahku, bikin aku gelagepan.
“Belum mbak, pacar aja gak punya, ciuman juga belum pernah…” jawabku jujur.
“Ehmmm…, kalau gitu…” di berdiri kemudian berjalan kepintu depan. Pintu dikunci oleh dia, kemudian tulisan closed dibalik. Lalu dia kembali ke tempatku duduk, kembali memeluk aku yang sudah betul-betul panas dingin.
“Mau nggak kayak gitu??” setengah berbisik dewi nanya didekat telingaku, seluruh badanku jadi merinding. Bibirnya ditempelkan ke telingaku. Anjrriiiiittttt……, aku gak bisa ngomong apa-apa. Tanpa menunggu jawabanku tangannya menarik tangan kiriku, ditempelkan ke toketnya. Gak terlalu besar sih, tanganku dibimbing untuk membuat gerakan mengusap dan meremas. Setelah aku bisa gerak sendiri, tanganku dilepaskan. Kemudian tangan kanan Dewi menelusup kedalam kaosku, meremas dan memilin-milin putingku. Badanku kayak kejang semua jadinya.
“Mas, mau kan sama Dewi? Satu malam ini aku milikmu… masss” suaranya mendesah ditelingaku. Mulutnya memagut bibirku, lidahnya liar masuk kemulutku. Sementara aku mendesah-ndesah keenakan (pengalaman pertama …) tanganku semakin aktif meremas toketnya. Tangan Dewi kemudian membuka beberapa kancing baju dinasnya, ehhh… ternyata masih ada kaos dalam. Kaos dalam dia sibakkan ke atas, kemudian BH juga dia sibakkan ke atas. Tanganku ditarik lagi buat meremas-remas toketnya, aku mulai bersemangat.
Tangan Dewi menelusup ke celanaku, ****** yang udah bengkak diremas-remas…, ahhhhhh. Ubun-ubun kayak mau meledak. Sementara Dewi terus memagut seisi mulut dan lidahku. Perlhan kaosku dinaikkan keatas, bibir Dewi kemudian pindah menjelajahi dadaku. Lidahnya menjilati putingku…. Huuuuuhhhhh, sambil sesekali terasa gigitan-gigitan kecil yang sering bikin aku kaget. Terasa seluruh dadaku disapu lidahnya.., rasanya nyaman-nyaman gimana gitu, lidahnya mulai turun menjilati pusarku. Karuan aja aku mengelinjang kesana-kemari.
Perlahan tangannya membuka risluting celanaku, diturunkan sebatas lutut. Didalam cd, ****** ini mulai terasa berdesir-desir, sementara Dewi dengan buas menciumi batang kejantananku. Tak lama kemudian, cd ku dilorotkan sebatas lutut juga.
“Mas, burungnya lumayan besar ya.. emmm” sambil tangannya mengelus dan meremas-remas batangku.
“Uhhhh…, emang besar ya mbakkk???” tanyaku sambil merem melek
“Nggak terlalu besar sih, tapi pas segini nih…”
Dewi menjawab sambil tangannya mulai mengocok batangku. “Massss…., burungnya aku emut yaa??”
“Iya mbak….” Aku udah gak konsen, Dewi lalu mulai mengulum kepala dan batang burungku pelan-pelan. Lembut banget, tangan kananku dengan gemas meremas-remas rambutnya yang pendek, rapi dan hemmmm…., sangat wangi. Dan tangan kiriki meremas toket dibalik baju dinasnya…, kenyal banget.
Semakin lama kulumannya semakin cepat, aku semakin menggelinjang dan kelojotan.
“Ohhhh…, Wii.., Dewiii.., sudahhhh…, sudahhh, aku nggak tahannnnn” aku menceracau sejadi-jadinya. Baru pertama kali diemut, sama cewk manis lagi…. Wahhhh betul juga, pangkal batangku mulai terasa senut-senut.
“Dewiii.., ohhh gak tahan mbakkk…” senut-senutnya semakin kencang dan akhirnya terasa ada sesuatu menggelegak… crottt.., crottt. Spermaku keluar didalam mulut Dewi. Tapi….., aduhhhh Dewi nggak melepas batang burungku, tetap dikulum-kulum dan disedot. Terasa bukan nikmat yang sekarang, tetapi jadi geli gak tertahan.
“sudah mbakkk…, geli aku..” sambil tanganku berusaha melepas kepala Dewi dari burungku. Tak berapa lama ia melepas mulutnya dari burungku…, uhhhhhh. Seluruh badan lemas serasa tak bertulang. Dewi tersenyum melihatku, kulihat mulutnya sedikit mengecap-ngecap.
“Ehhh mbak, spermaku mbak telan ya??” tanyaku
“Iya, nggak papa kok. Sehat tuh, rasanya emang agak asin sihh. Lagian daripada nyemprot kemana-mana, bisa kena macem-macem tuhh….” Dewi menjawab sambil tersenyum genit. Tangannya mulai bergerilya lagi mengejar batang burungku yang sudah mulai mengkerut. Dipegang dan mulai dielus lagi…, aku masih menggelinjang geli…, tapi lama-lama mulai terasa hangat dan nikmat lagi. Mulutnya kembali memagut mulutku, kami berciuman dengan ganas. Aku mulai bisa mengimbangi permainannya.
“Mas, setelah ini giliranku yang dikasih kenikmatan ya?” sambil nafasnya mulai tersengal-sengal
“Ya mbak, aku puasin mbak dehh” tanganku dibimbing untuk ikut melepas celana dinas coklat miliknya. Aku plorotkan hingga sebatas lutut. Tampak celana dalam warna hitam yang menutupi gundukan. Nggak sabar sekalian aku plorotin celana dalamnya. Terlihat jembut tebal menghiasi gundukan daging. Tanganku mulai mengusap dan berusaha menyibak jembutnya, mencari sesuatu seperti yang ada di situs-situs porno.
Dengan lembut tangan Dewi membimbing tanganku, dan mengarahkan mulutku kea rah memeknya. Cuma karena celana Cuma dilorot sebatas lutut, maka agak sulit untuk sampai ke memeknya. Akhirnya lidahku dapat menjangkau memeknya, kujilat dikit-dikit dan terasa agak basah (hihihi…, agak bau keringat ya.., nggak papa). Dewi mulai mendesah lirih, aku tambah ritmenya.
“Masss…, ayo masukin aja ya…, udah nggak tahan nih..” Dewi bersuara lirih.
“Ya mbak” Aku kembali berdiri dan bersiap dengan burungku. Tapi aku kebingungan, dengan posisi celanaku yang sebatas lutut dan Dewi yang juga sama kami berdua keliatannya sama-sama bingung.
“Mbak…, masukinnya gimana nih??”
“Ehh.., iya ya mas…., gimana kalau dari belakang saja? Aku agak nungging ya…”
“Ya deh.., terserah mbak. Aku masih bingung nih..” Lalu Dewi berbalik dan posisi merangkak, kedua pahanya direnggangkan sehingga memeknya sedikit tampak membuka.
“Sini mas, masukkan…, tusuk ke yang sini yaa…” tangannya menjangkau dan memegang batangku, ditarik pelan-pelan kearah lubang memeknya yang agak basah. Sebentar kemudian, kepala burungku digesek-gesekkan ke memeknya, nikmat sekali…
Aku mulai sedikit mendorong batang burungku kelubang memeknya. Pelan-pelan, batangnya mulai ambles kedalam memek. Tanganku mulai meremas-remas pantat Dewi…. (gila, bulat banget nih pantat polwan, kenceng banget lagi. Banyak olahraga kali ya?). Terkadang tanganku menyusup kedalam baju dinasnya dan meremas-remas toketnya serta memilin putting susunya. Dewi mendesah-ndesah keenakan.
“Gimana masss??? Enakkk?… terus mas maju mundur aja….”
“Ya mbak, enak. Mbak seksi banget yahh, udah langsing pantatnya montok lagi” pujiku jujur
“Ahhh mas, bisa aja. Burung mas juga enak kok…, kuat banget, padahal baru keluar habis-habisan lho tadi…” godanya genit. “gimana mas perasaannya nggoyang polwan??”
“Ehhh…, agak deg-degan juga…”sambil pinggulku memaju mundurkan batang didalam memeknya. Sambil mataku lihat jam dinding, 22.30. tanganku semakin familiar dengan lekuk-lekuk tubuh Dewi. Pundak Dewi kemudian merendah, pantatnya sekarang benar-benar nungging, nafasnya mulai memburu tak teratur.
“Ahhhh… mass…, enakkkkk, terusss” badannya mengeliat-geliat, sesekali tampak pantat bulatnya mengejang. “ohhhh…. Ohhhhh….., ahhhhhhhh” Tampak seluruh badan Dewi mengejang beberapa saat dan kemudian mengendur pelan-pelan.
“Aku dah orgasme mass…., ayo mas terus aja sampe keluar” matanya sayu tapi mengerling manja ke arahku. “Mau ganti gaya ya mas?? Spooning aja ya? Mas pasti tau dehh… yukk”
“Ya mbak” aku pelan-pelan rebah bersama Dewi. Posisi spooning sekarang, aku peluk Dewi dari belakang sambil sku sodokkan burungku berulang-ulang dan sekuat tenaga.
“ahh…, ahhh…, ahhh” Dewi menjerit pelan, aku terus memompa
“Ahhhh mbakkk…, akuu keluarrrrr…” tubuhku mengejang dan crott…crottt. Spermaku keluar untuk kedua kalinya… Pelukanku ke Dewi bagai mencengkeram sampai Dewi sepertinya sulit bernafas.
“masss…., puas ya” ucapnya lembut dan manja…, aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku melirik jam dinding.., sudah jam 23.15.
“Ada apa sih mas, kok lihat jam??? Nggak suka ya?” Dewi merengut
“nggak mbak.., tapi udah hamper jam setengah dua belas, temenku yang aplusan jaga bentar lagi dating” jelasku
“Ohhh… kirain..” senyumnya manja kemudian kepalanya menoleh ke wajahku dan mulai memagut mulutku lagi. “ya udah…, kita beres-beres dulu yuk”
Aku melepas batangku yang mulai lemas dari memeknya, kuambil tisu untuk menahan dan membersihkan cairan disekitar memeknya.
“Makasih ya mas” sambil dia merapikan kembali seragam polwannya. Merapikn lagi rambutnya yang pendek…, aku suka sekali melihatnya.
“Mbak cantik banget dehhh”
“ahhh mass…., makasih juga. Sama-sama, aku juga sangat menikmati ini kok. Kalau bisa lain kali kita ketemuan lagi…, aku percaya kamu kok” balasnya masih dengan nada manja. “Ehh…, boleh minta nomer hp ya mas…, supaya bisa ketemuan lagi”
“Tentu mbak, mbak baik banget. Perjakaku diambil mbak lhooo…..” aku sedikit tersipu
“Ohhh…, maaf ya. Habis aku pngen banget sihhhh… semoga kamu suka dan nggak kapok” setelah rapi, dia memakai sepatu dan mau membayar internet.
“ndak usah mbak.., ini bayarannya sudah sangat berlebih kok” jawabku
“Ahhh… yaudah. Makasih ya ..” Setelah tukar menukar nomer hp, Dewi membuka pintu dan menyempatkan kissbye yang aku bales dengan lebih mesra.
Dan sejak itu kadang-kadang aku ketemuan dengan Dewi diberbagai tempat.Beberapa minggu setelah itu Dewi bercerai dengan suaminya. Hubunganku dengan Dewi hingga tahun 2004. Tahun itu dewi udah punya suami baru, seorang perwira polisi. Aku ndak berani ketemuan lagi, dan Dewi kayaknya sekarang betul-betul sayang sama suaminya. Aku turut bersyukur saja
Saat itu aku jaga warnet malem sendirian, harusnya sih berdua, tapi biasa lah ada aja alesan untuk ngilang. Yang heran, tumben warnet sepi banget (padahal tahun2 segitu saat orang jarang punya modem sendiri, warnet ndak pernah sepi lho). Jadinya aku santai-santai sambil browsing materi kuliah, sambil slonjor-slonjor dan nyamil kacang.
Sekitar jam 9 ada suara motor berhenti diluar. Hah, akhirnya ada pengunjung juga. Pintu kemudian dibuka, Nampak cewek masuk, bodynya tinggi, wajahnya imut sih, rambut potong pendek dan pake jaket dan celana panjang.
“Mau nge-net ada mas?” tanyanya.
“Oh, silahkan mbak…, kosong kok. Bebas milih mana saja.” Jawabku ramah sambil melihat wajah imut tersebut.
“Makasih mas, saya dipojok situ aja” dia lalu menuju bilik yang pojok, terus nglepas sepatu dan duduk (bilik warnetnya lesehan semua). Aku lihat sepatunya sepatu kulit, kayak-kayaknya bukan cewek biasa nih. Setelah duduk, dia membuka jaket, ternyata dibalik jaketnya dia memakai seragam polisi, pangkatnya Segitiga Kuning satu biji, ohh Sersan Dua pangkatnya. Ohh.., seorang polwan yang manis pikirku.
“Mas, username ama passwordnya apaan nih??” tanyanya, sambil menoleh ke aku.
“Ehh.., ohh.., bebas kok mbak, langsung aja” kataku jadi sedikit gagap gara-gara terpana plus kaget..
“Okey mas, makasih”
Beberapa menit sambil browsing aku curi-curi lihat ke mbak polwan tadi. Lama-lama kok beberapa kali ketahuan lagi nyuri pandang. Akhirnya aku gak berani lagi ngliat dia. Konsentrasi aku alihkan ke monitor komputerku. Karena bosan dengan materi kuliah, aku mulai browsing situs-situs hot.
Setengah jam berlalu, tiba-tiba aku kaget saat mbak tadi sudah disampingku.
“Mas, ajari bikin email dong” katanya…
“ehh…,ehhhh…, ehhh iya” aku panic, karena monitorku isinya penuh gambar pasangan lagi adegan hot. “ayo mbak…, saya ajari” aku langsung berdiri dan mengajak mbak polwan tadi ke biliknya (supaya aku gak tengsin & terlalu lama salting didepan komputerku).
Aku mulai ngajari cara mbuat email dari dasar-dasarnya. Sambil lirak-lirik aku baca namanya, sebut saja Dewi . Dewi tampak antusias mendengar penjelasanku, kemudian mulai mencoba mempraktekkan langkah demi langkah. Aku masih grogi, bagaimana tidak, lha wong dia polwan… hiiiii. Tapi kayaknya dia yang berusaha mencairkan suasana.
“Mas sudah lama kerja diwarnet ya?” tanyanya
“Wah, baru kok mbak. Ini juga buat nambah-nambah biaya kuliah” jawabku sambil berusaha tersenyum, tapi masih kaku…. Shitt.
“wah, kok lancer banget gitu ya nge-netnya? Ehh, jangan panggil saya mbak dong. Nih, kan namaku udah terpampang jelas gini. Panggil Dewi aja ya? Kalo nama mas sapa?”
“Saya Andri mbak.., wah nggak berani manggil gitu mbak. Ngak sopan” Jawabku sambil menggerakkan mouse.
“Nggak papa kok, biar akrab. Lagian kayaknya kita seumuran ya. Aku dua puluh tiga tahun kok” paparnya blak-blakan, jarang yh cewek blak-blakan masalah umur
“Ya deh mbak, eh Dewi…, kalo saya baru dua puluh dua tahun mbak, tuaan mbak dikit dong, ngomong-ngomong kok masih pake baju dines. Habis tugas ya?” tanyaku sambil kesempatan buat mandang wajahya yang manis (buehhh…, betul-betul manis nihh)
“Iya habis ikut pengamanan di balaikota, tadi ka ada demo mahasiswi. Jadi Polwannya turun semua.”
“Ohh.., gitu. Lho mbak Dewi kok gak pulang kerumah? “ tanyaku lagi
“Nggak, tadi lihat warnet jadi pengin mampir. Sekalian belajar”
“Emang mbak Dewi rumahnya dimana?”
“Di perumahan ****, yahh agak jauh sih. “dia menjawab sambil tersenyum manis… wihhh.
“Lho, udah nikah ya mbak? (nanya nya mulai gak konsen gara-gara senyuman tadi)”
“Udah, nikah sih udah satu tahun. Suamiku sipil, kerja di expidisi. Tapi lagi ruwet nihh…, dia kecantol ama temen kerjanya, ini aku lagi ngurus cerai” katanya sambil sedikit serak.
“Ehm, maaf mbak. Lancang nanya.”
“Gak papa.., kalo mas sendiri?” Lhahh, dia balas nanya
“Belum mbak, pacar aja gak ada. Nanti-nanti lah”
“Ohh, padahal penampilan mendukung lhoh” dia menjawab sambil tersenyum lagi. Matek aku… panas dingin langsung. Apalagi tangannya sambil menyenggol bahuku… beuhhh.
“Ahh, mbak bisa aja. Ehh.., suami mbak terlalu juga ya. Mbak yang secantik ini di khianati…” agak nggombal dikit jawabanku
“Hahaha…, cantik gimana? Biasa aja ah” Sambil tangannya disenggolkan ke bahuku lagi. “Tapi, hatiku sedih sekali, makanya kadang kalo pulang kerja aku ndak langsung kerumah. Tapi jalan kemana dulu gitu”
“Lho, cantik betul lho mbak, manis tinggi langsing lagi…” entah darimana kata-kata ini kudapat, dia terlihat agak tersipu-sipu. Senyumnya makin mengembang.
“Ehmm.., makasih ya. Eh.., ngliat situs-situs yang kayak tadi dimana ya?” tanyanya agak malu-malu
“Ehhh.., yang mana ya mbak?” jawabku pura-pura bego
“Yang tadi itu lho, yang dikomputernya mas.”
“Ohh.., ehh gak papa ya mbak? Ini aku carikan alamatnya” aku mulai mengetik alamat, dan muncul gambar-gambar orang lagi bercinta berat. Aku lihat matanya menatap monitor penuh hasrat. “ini tinggal di klik link-link yang ada. Banyak kok nantinya” Sambil aku beranjak pergi, mau kembali ke tempat operator.
“Ehh, kemana mas? Temenin aku dong, siapa tau nanti ada kesulitan lagi.” Sambil tangannya meraih tanganku dan menarikku untuk duduk lagi. “Disini aja ya..” dan aku mengangguk pelan.
Kami berdua mulai browsing situs-situs xxx, dan aku merasa duduk makin merapat. Mata Dewi tak lepas dari monitor, nafasnya terdengar agak memburu (aku juga demikian sihh hehehehe…). Terasa tubuhku mulai bersentuhan dengannya, hangat dehh. Tangannya ditumpangkan kepahaku, membuat konty ku meluap meronta-ronta (waktu itu aku masih betul-betul perjaka… bayangkeunn), diusap-usap pahaku. Aku beranikan memeluk pinggangnya yang ramping dan aku rapatkan tubuhnya ke tubuhku.
“Mas, udah pernah kayak yang dikomputer ini ndak?” tanyanya pelan, agak berbisik. Wajahnya betul-betul rapat dengan wajahku, bikin aku gelagepan.
“Belum mbak, pacar aja gak punya, ciuman juga belum pernah…” jawabku jujur.
“Ehmmm…, kalau gitu…” di berdiri kemudian berjalan kepintu depan. Pintu dikunci oleh dia, kemudian tulisan closed dibalik. Lalu dia kembali ke tempatku duduk, kembali memeluk aku yang sudah betul-betul panas dingin.
“Mau nggak kayak gitu??” setengah berbisik dewi nanya didekat telingaku, seluruh badanku jadi merinding. Bibirnya ditempelkan ke telingaku. Anjrriiiiittttt……, aku gak bisa ngomong apa-apa. Tanpa menunggu jawabanku tangannya menarik tangan kiriku, ditempelkan ke toketnya. Gak terlalu besar sih, tanganku dibimbing untuk membuat gerakan mengusap dan meremas. Setelah aku bisa gerak sendiri, tanganku dilepaskan. Kemudian tangan kanan Dewi menelusup kedalam kaosku, meremas dan memilin-milin putingku. Badanku kayak kejang semua jadinya.
“Mas, mau kan sama Dewi? Satu malam ini aku milikmu… masss” suaranya mendesah ditelingaku. Mulutnya memagut bibirku, lidahnya liar masuk kemulutku. Sementara aku mendesah-ndesah keenakan (pengalaman pertama …) tanganku semakin aktif meremas toketnya. Tangan Dewi kemudian membuka beberapa kancing baju dinasnya, ehhh… ternyata masih ada kaos dalam. Kaos dalam dia sibakkan ke atas, kemudian BH juga dia sibakkan ke atas. Tanganku ditarik lagi buat meremas-remas toketnya, aku mulai bersemangat.
Tangan Dewi menelusup ke celanaku, ****** yang udah bengkak diremas-remas…, ahhhhhh. Ubun-ubun kayak mau meledak. Sementara Dewi terus memagut seisi mulut dan lidahku. Perlhan kaosku dinaikkan keatas, bibir Dewi kemudian pindah menjelajahi dadaku. Lidahnya menjilati putingku…. Huuuuuhhhhh, sambil sesekali terasa gigitan-gigitan kecil yang sering bikin aku kaget. Terasa seluruh dadaku disapu lidahnya.., rasanya nyaman-nyaman gimana gitu, lidahnya mulai turun menjilati pusarku. Karuan aja aku mengelinjang kesana-kemari.
Perlahan tangannya membuka risluting celanaku, diturunkan sebatas lutut. Didalam cd, ****** ini mulai terasa berdesir-desir, sementara Dewi dengan buas menciumi batang kejantananku. Tak lama kemudian, cd ku dilorotkan sebatas lutut juga.
“Mas, burungnya lumayan besar ya.. emmm” sambil tangannya mengelus dan meremas-remas batangku.
“Uhhhh…, emang besar ya mbakkk???” tanyaku sambil merem melek
“Nggak terlalu besar sih, tapi pas segini nih…”
Dewi menjawab sambil tangannya mulai mengocok batangku. “Massss…., burungnya aku emut yaa??”
“Iya mbak….” Aku udah gak konsen, Dewi lalu mulai mengulum kepala dan batang burungku pelan-pelan. Lembut banget, tangan kananku dengan gemas meremas-remas rambutnya yang pendek, rapi dan hemmmm…., sangat wangi. Dan tangan kiriki meremas toket dibalik baju dinasnya…, kenyal banget.
Semakin lama kulumannya semakin cepat, aku semakin menggelinjang dan kelojotan.
“Ohhhh…, Wii.., Dewiii.., sudahhhh…, sudahhh, aku nggak tahannnnn” aku menceracau sejadi-jadinya. Baru pertama kali diemut, sama cewk manis lagi…. Wahhhh betul juga, pangkal batangku mulai terasa senut-senut.
“Dewiii.., ohhh gak tahan mbakkk…” senut-senutnya semakin kencang dan akhirnya terasa ada sesuatu menggelegak… crottt.., crottt. Spermaku keluar didalam mulut Dewi. Tapi….., aduhhhh Dewi nggak melepas batang burungku, tetap dikulum-kulum dan disedot. Terasa bukan nikmat yang sekarang, tetapi jadi geli gak tertahan.
“sudah mbakkk…, geli aku..” sambil tanganku berusaha melepas kepala Dewi dari burungku. Tak berapa lama ia melepas mulutnya dari burungku…, uhhhhhh. Seluruh badan lemas serasa tak bertulang. Dewi tersenyum melihatku, kulihat mulutnya sedikit mengecap-ngecap.
“Ehhh mbak, spermaku mbak telan ya??” tanyaku
“Iya, nggak papa kok. Sehat tuh, rasanya emang agak asin sihh. Lagian daripada nyemprot kemana-mana, bisa kena macem-macem tuhh….” Dewi menjawab sambil tersenyum genit. Tangannya mulai bergerilya lagi mengejar batang burungku yang sudah mulai mengkerut. Dipegang dan mulai dielus lagi…, aku masih menggelinjang geli…, tapi lama-lama mulai terasa hangat dan nikmat lagi. Mulutnya kembali memagut mulutku, kami berciuman dengan ganas. Aku mulai bisa mengimbangi permainannya.
“Mas, setelah ini giliranku yang dikasih kenikmatan ya?” sambil nafasnya mulai tersengal-sengal
“Ya mbak, aku puasin mbak dehh” tanganku dibimbing untuk ikut melepas celana dinas coklat miliknya. Aku plorotkan hingga sebatas lutut. Tampak celana dalam warna hitam yang menutupi gundukan. Nggak sabar sekalian aku plorotin celana dalamnya. Terlihat jembut tebal menghiasi gundukan daging. Tanganku mulai mengusap dan berusaha menyibak jembutnya, mencari sesuatu seperti yang ada di situs-situs porno.
Dengan lembut tangan Dewi membimbing tanganku, dan mengarahkan mulutku kea rah memeknya. Cuma karena celana Cuma dilorot sebatas lutut, maka agak sulit untuk sampai ke memeknya. Akhirnya lidahku dapat menjangkau memeknya, kujilat dikit-dikit dan terasa agak basah (hihihi…, agak bau keringat ya.., nggak papa). Dewi mulai mendesah lirih, aku tambah ritmenya.
“Masss…, ayo masukin aja ya…, udah nggak tahan nih..” Dewi bersuara lirih.
“Ya mbak” Aku kembali berdiri dan bersiap dengan burungku. Tapi aku kebingungan, dengan posisi celanaku yang sebatas lutut dan Dewi yang juga sama kami berdua keliatannya sama-sama bingung.
“Mbak…, masukinnya gimana nih??”
“Ehh.., iya ya mas…., gimana kalau dari belakang saja? Aku agak nungging ya…”
“Ya deh.., terserah mbak. Aku masih bingung nih..” Lalu Dewi berbalik dan posisi merangkak, kedua pahanya direnggangkan sehingga memeknya sedikit tampak membuka.
“Sini mas, masukkan…, tusuk ke yang sini yaa…” tangannya menjangkau dan memegang batangku, ditarik pelan-pelan kearah lubang memeknya yang agak basah. Sebentar kemudian, kepala burungku digesek-gesekkan ke memeknya, nikmat sekali…
Aku mulai sedikit mendorong batang burungku kelubang memeknya. Pelan-pelan, batangnya mulai ambles kedalam memek. Tanganku mulai meremas-remas pantat Dewi…. (gila, bulat banget nih pantat polwan, kenceng banget lagi. Banyak olahraga kali ya?). Terkadang tanganku menyusup kedalam baju dinasnya dan meremas-remas toketnya serta memilin putting susunya. Dewi mendesah-ndesah keenakan.
“Gimana masss??? Enakkk?… terus mas maju mundur aja….”
“Ya mbak, enak. Mbak seksi banget yahh, udah langsing pantatnya montok lagi” pujiku jujur
“Ahhh mas, bisa aja. Burung mas juga enak kok…, kuat banget, padahal baru keluar habis-habisan lho tadi…” godanya genit. “gimana mas perasaannya nggoyang polwan??”
“Ehhh…, agak deg-degan juga…”sambil pinggulku memaju mundurkan batang didalam memeknya. Sambil mataku lihat jam dinding, 22.30. tanganku semakin familiar dengan lekuk-lekuk tubuh Dewi. Pundak Dewi kemudian merendah, pantatnya sekarang benar-benar nungging, nafasnya mulai memburu tak teratur.
“Ahhhh… mass…, enakkkkk, terusss” badannya mengeliat-geliat, sesekali tampak pantat bulatnya mengejang. “ohhhh…. Ohhhhh….., ahhhhhhhh” Tampak seluruh badan Dewi mengejang beberapa saat dan kemudian mengendur pelan-pelan.
“Aku dah orgasme mass…., ayo mas terus aja sampe keluar” matanya sayu tapi mengerling manja ke arahku. “Mau ganti gaya ya mas?? Spooning aja ya? Mas pasti tau dehh… yukk”
“Ya mbak” aku pelan-pelan rebah bersama Dewi. Posisi spooning sekarang, aku peluk Dewi dari belakang sambil sku sodokkan burungku berulang-ulang dan sekuat tenaga.
“ahh…, ahhh…, ahhh” Dewi menjerit pelan, aku terus memompa
“Ahhhh mbakkk…, akuu keluarrrrr…” tubuhku mengejang dan crott…crottt. Spermaku keluar untuk kedua kalinya… Pelukanku ke Dewi bagai mencengkeram sampai Dewi sepertinya sulit bernafas.
“masss…., puas ya” ucapnya lembut dan manja…, aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku melirik jam dinding.., sudah jam 23.15.
“Ada apa sih mas, kok lihat jam??? Nggak suka ya?” Dewi merengut
“nggak mbak.., tapi udah hamper jam setengah dua belas, temenku yang aplusan jaga bentar lagi dating” jelasku
“Ohhh… kirain..” senyumnya manja kemudian kepalanya menoleh ke wajahku dan mulai memagut mulutku lagi. “ya udah…, kita beres-beres dulu yuk”
Aku melepas batangku yang mulai lemas dari memeknya, kuambil tisu untuk menahan dan membersihkan cairan disekitar memeknya.
“Makasih ya mas” sambil dia merapikan kembali seragam polwannya. Merapikn lagi rambutnya yang pendek…, aku suka sekali melihatnya.
“Mbak cantik banget dehhh”
“ahhh mass…., makasih juga. Sama-sama, aku juga sangat menikmati ini kok. Kalau bisa lain kali kita ketemuan lagi…, aku percaya kamu kok” balasnya masih dengan nada manja. “Ehh…, boleh minta nomer hp ya mas…, supaya bisa ketemuan lagi”
“Tentu mbak, mbak baik banget. Perjakaku diambil mbak lhooo…..” aku sedikit tersipu
“Ohhh…, maaf ya. Habis aku pngen banget sihhhh… semoga kamu suka dan nggak kapok” setelah rapi, dia memakai sepatu dan mau membayar internet.
“ndak usah mbak.., ini bayarannya sudah sangat berlebih kok” jawabku
“Ahhh… yaudah. Makasih ya ..” Setelah tukar menukar nomer hp, Dewi membuka pintu dan menyempatkan kissbye yang aku bales dengan lebih mesra.
Dan sejak itu kadang-kadang aku ketemuan dengan Dewi diberbagai tempat.Beberapa minggu setelah itu Dewi bercerai dengan suaminya. Hubunganku dengan Dewi hingga tahun 2004. Tahun itu dewi udah punya suami baru, seorang perwira polisi. Aku ndak berani ketemuan lagi, dan Dewi kayaknya sekarang betul-betul sayang sama suaminya. Aku turut bersyukur saja
Diposting oleh
Memek Basah
di
10.09
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Sex
Cerita Sex : Dari Liburan Sampai Ke Ranjang
Minggu, 07 September 2014
Berawal dari liburan panjang ke rumah nenek di daerah Garut sekitar pertengahan 2003, waktu itu saya masih SMP kelas 2 di Jakarta. Di Jakarta saya tinggal di daerah Pejaten. Seminggu sebelumnya nenek menelepon saya untuk mengajak liburan ke rumahnya di Garut.
Singkat cerita hari yang ditunggupun tiba. Saya dan kakak saya (Dewi) menunggu jemputan mang Ujang di koskosan saya. Wah, lama juga neh mang Ujang. Molor 2 jam neh dari jadwal, kak Sinta dah 2 kali nelponin kak Dewi. Namun akhirnya mang Ujang datang dengan muka pRatmiknya. “ den, maap den mang Ujang tersesat dan kejebak macet”, “ yawes mang ok kita go, jemputin mbak Sinta dulu yah”.
Mobil pun melaju tenang ke daerah Jakarta Timur tempat tinggal Kak Sinta. Sebetulnya saya tidak begitu mengenal istri kakak sepupu saya ini Cuma pernah sekali ketemu pas acara akikahan anaknya yang pertama itupun saya tidak terlkalu perhatikan. Singkatnya kamipun tiba di alamat yang dituju. Kak Sinta dan 2 anaknya dah nunggu di depan rumahnya.
Setelah kenalan dan mengatur barang2 bawaan doi ngambil duduknya di tengah (atas anjuran saya biar anaknya leluasa bermain). Karena kak Dewi lebih senang di depan makanya dia langsung ambil posisi di samping mang Ujang, awalnya Gue nih yang pengen di depan tapi ga’ papalah di belakang juga oke dan ternyata membawa berkah dan awal seru dari cerita ini.
Selama perjalanan kamipun ngobrol ngidal-ngidul ketawa-ketiwi dan yang lebih asik lagi doi ternyata GFE bgt orangnya enak ngobrolnya dan suka bercanda. Menjelang sore mang Ujang singgah di pom bensin di daerah tol sekalian beristirahat, kamipun mengisi perut di resto pom bensin tsb, setelah itu lanjut.
Sebagian sudah terlelap termasuk kak Dewi dan anak pertama nya Doi . Doi sendiri sibuk ngelonin anak bungsunya yang agak rewel karena susu botolnya abis. Iseng gue Tanya. “ kenapa nih si adee?(sambil gw sandari dagu dijok tengah sebelah kepala Doi” . “Iya an tadi lupa isi termos, jadi gak bisa bikini susu neh.” Nahhh sodara agan2 pemandangan berikutnya bikin gue takjub,bin senang bin konak. Tanpa basa-basi doi ngangkat tuh kaos sampai kelihatan branya dan mulai membuka cupnya (gue hanya diam terpaku dg dagu masih bersandar di Jok, Cuma berjarak sekitar 20 cent gan Dari target). Busyet kata gue dalam ati, putih n montok bgt pentilnyas gak terlalu besar dengan warna coklat muda, beda bgt dengan pacar gw. Kalah besar (walopun dah malam nih mata tajam bgt kelihatannya)… “cup…cup sayang sini nenen aja susu botolnya abis yah”.
Maklum anak2 mungkin dah favorit susu botol jd sedikit jual mahal. Dibiarin tuh toket ngelewer-ngelewer agak lama baru deh di emut dan langsung tidur. Gue masih sedikit terpaku neh dengan kecuekan Doi dan lagi si Otong dah ngaceng bgt di bawah. “wah dah bobo kak.”, “ iya, loh kamu dr tadi disitu? Enak neh liat gratis..hehe”, “ heheh (gw cengengesan salah tingkah)… enak yah, gimana rasanya tuh (sedikit berbisik)”, “ga tau deh Tanya aja ma Dino, hehehe”. Waktu itu gue belum berRatmi macem2, sekitar 5 menit berlalu doi pun tertidur dan si Dino masih nenenin tuh toket montok.
Walopun berusaha ikut tidur, namun keringat dingin membasahi kening karena nafsu yang teramat sangat. Gue gak sanggup gan ngebayangin ngemut tuh toket sambil ngelusin Si Otong. Karena dah sange bgt gue putusin keluarin si Otong (niatnya onRatmi sambil ngebayangin ngemut tuh toket montok) maklum selama ini pacar gw cuma ngasih serpis handjob+grepe2 toket n fk.
Nah, mulai deh ritual handjob, gue buka tuh resleting perlahan dan keluarin si Otong dan gue elus –elus tuh meriam belanda (heheh), gak puas ngebayangin gue mulai deh nyuri2 nyium rambut doi (hmm ajib, harum bgt), sambil tetep ngocok si Otong makin lama gw makin cepet neh serasa dah mau meledak gan. Namun tiba2 mobil terguncang karena ada lobang dan karena dah pulas si Doni ngelepasin tuh toket, gw yang dari tadi hanya nyium2 tuh rambut sedikit kaget bin takjub melihat pemandangan toket ngelewer2 didepan mata gw. Tensi kocokanpun sedikit melambat melihat pemandangan tsb. Wah.. pikiran gw semakin liar jadinya, pengen banget remes tuh toket namun sayang gw takut bgt. Untungnya mang Ujang konsen bgt nyupirinnya jadi ga sadar dengan kejadian di belakang. Berjuta2 setan pun mulai merecokin pikiran saya (“dah gan! Pegang ajah, emut klo bisa” kata salah satu setannya). Dan gw berRatmiin mengelus tuh toket dg tangan kanan dan yang kiri masih sibuk ngocokin si Otong.
Tangan gw gemeter bgt awalnya. Satu jari gw sentuhin di pentilnya (serasa basah karena masih ada sisa asi yang keluar. Gw jilatin jari gw… hmmm mRatmis juga rasanya). Setetes asi ternyata memberikan kekuatan padaku untuk bertindak lebih jauh, kemudian gw pegang lagi tuh toket montok, anget dan gede bgt sampai tangan gw gak cukup tutupin tuh toket, dengan gerakan sedikit meremas terasa kenyal bgt dan lama kelamaan makin keras tuh toket (sepertinya doi terangsang dalam mimpi). Tangan kiri gw semakin cepet ngocoknya, sepertinya lahar dah mau meledak dan tangan yang satunya negremes makin dalam kerena sensasi tuh toket yang makin keras ketika diremes (sayup2 doi sedikit melenguh, namun gw cuek aja) dan pas Otong mau meledak sedikt gue peratiin mang Ujang (aman masih konsen nyetir dan ga peratiin tuh spion tengah). Gue langsung majuin kepala ke depan ngemut tuh pentil, otomatis asinya keluar deh ngebanjirin mulut gw. Sepet2 mRatmis gan rasanya, dan tak lama Otong-pun memuntahkan laharnya. Banyak bgt sekitar 8 kali tembakan (maklum lama gak dikeluarin ma pacar… hehe). Nih mulut masih ngemut toh toket sampai gw sedikit tersadar dan untungnya Doi masih terlelap.
Gw lepesin tuh mulut dan gw beri sedikit kecupan di pentilnya dalam ati gw bilang mudah2an doi pikir anaknya yang emutin. Gw masukin tuh Otong lagi kesarangnya terus bersihin tuh lahar yang berceceran dilantai mobil kemudian dan berusaha terlelap. Perlahan sekilas kulihat doi terbangun tanpa melihat kea rah gw, doi betulin tuh bra dan posisi si Dino trus lanjut tidur (cihuuuuyyy!! Aman pikir gw) ….
Menjelang tengah malam kamipun tiba di rumah nenek. Rumah yang asri dengan suasana sejuk dikelilingi perkebunan teh yang cukup luas. Yah, almarhum kakek adalah seorang pengusaha teh yang cukup terkenal di Garut. Sepeninggalan beliau nenek Cuma dibantu beberapa orang karyawan, makanya nenek agak kesepian tinggal di rumah yang lumayan besar. Nenek sudah menyiapkan segalanya ketika kami sampai. Mulai dari makan malam sampai urusan kamar sdh beres. Kamipun kangen2nan dengan nenek berbagai ceritapun mengalir malam itu di meja makan hingga terasa lelahpun menerpa kami. Kamipun bergegas ke kamar masing.
Karena nenek sendiri makanya nenek meminta Kak Dewi menemRatminya tidur. Sedang Aku tidur di kamar paman saya dan doi dengan anak2nya tidur di kamar tamu yang cukup besar dan letaknya tepat bersebelahan dengan kamarku. Lelah banget piker gw namun entah mengapa mataku sulit terpejam mengingat kejadian di mobil tadi berbagai pikiran kotor mengalir di kepalaku, ingin rasanya meninkmati setiap bagian tubuh kak Sinta, tapi bagaimana caranya yah (sebuah angan2 yang tidak mungkin tercapai).
Akhirnya untuk menghilangkan pusing di kepala aku bersolo ria dengan si otong. Mulai ku kocok si otong dan membayangkan sedang menyetubuhi kak sinta. Sekitar 30 menit akhirnya kumuntahkan juga lahar kental putih si otong. Gw puas gan malam itu hingga tidurpun terasa lelap hingga pagi menjelang.
Pagi harinya gw lelep bgt tidurnya tak terasa terdengar gedoran pintu…. Wah rupanya mang Ujang.
“Ada apa mang???”, “Gpp den. Tadi Ndoro putri nyariin aden, mang Ujang bilang sepertinya masih tidur mungkin masih lelah. Semuanya dah pada ke kebun teh Den”. “ y awes mang gw mandi dulu br kesana”
Gw mlas2an krn emang masih lelah bgt krn kejadian semalam. Setelah mandi dan berpakaian santai plus sweeater (dingin gan, maklum suasana puncak kebun teh)gwpun meluncur ke TKP. Lumayan juga jalannya sekitar 200 meteran. Gw lihat nenek ma kak Dewi lagi main2 ma anaknya doi. Lucu juga yah…heheh.. “Loh kak Sinta mana nek?”
“ itu sana lagi pengen motret katanya”. Terlihat di kejauhan sesosok tubuh indah berada di bukit perkebunan teh . “ kesana al tadi dicariin ma mbak Sinta” kata Kak Dewi, “knapa emangnya? “ kata gw. “Dia kan baru beli camdig seri pro, cm belum begitu ahli, makanya gw bilang minta ajar aja ma si Aldi soalnya lo kan jurnalis di kampus sedikit banyak tahulah seluk-beluk fotografi”…. Waaaaaaaah petik mangga dapet kedongdong niat gw kesampaian dong ngedeketin doyong (doi maksudnya… maksa bgt pantunnya)… pinter bgt kakak gw rupanya (dalam ati gw). Dan pucuk di anti ulam tiba, doi manggil2 gw dari kejauhan …. “aaaaaaaaaaaaaaaallllll” dengan gerakan tangannya memanggil gw kesana.
Dengan berjalan santai namun pasti gw panjat tuh bukit. Lumayan jauh juga sekitar 200 meteran dari tempat kak Dewi, nenek dan anak2 doi. Sampe di sana dengan sedikit ngos2an gw bilang : “kenapa mbak?” wah indah bgt , doi pake baju bali item yang tipis bgt tuh sedikit menerawang tuh bh putihnya, lengkap dengan celana hot pan warna putih (pahanya montok bgt Dan putih gan). Rambut di iket. Gw nyeletuk : “ hehe.. cantik banget kak” doi cuman senyam-senyum. “ al, lu katanya jurnalis di kampus yah? Ajarin gw dong teknik motret”. Gw : “ ah kak Dewi melebih-lebihkan mbak, gw masih belajar jg. Tapi sedikit2 tahulah…heheh. Hmmm… kameranya bagus. Seri pro neh”.
Mulailah gw menerangkan bagian2 kamera dan cara2 memotret yang benar. Doi amat menikmatinya dan mengikuti penjelasan gw dengan seksama. Sampai nenek dan kak Dewi dah teriak2 manggil kami. “ayo pulang!!! Mw ujan kata” kak Dewi. “Iya ntar lagi kata gw” sial ganggu bgt orang lagi asik berdua dg doi (guman gw dalem ati). Dan bener juga ujan mulai turun dengan derasnya, tampak nenek, kak Dewi ma anak2 doi berlari masuk ke pekarangan rumah dari kejauhan. Gw pun berlari sambil mebuka sweeter menutupi kepala gw dan doi yang gw rangkul mesra bgt (heheh). Sampai kami melewati rumah2an pondok tempat biasanya para pemetik teh beristirahat. “ berteduh dulu an” kata doi. “oke mbak”. Baju gw basah neh demikian pula doi namun gak sampai kuyup juga seh. Hp Doi bunyi, rupanya kak Dewi menelepon nanyain kabar. “ iya Din, lagi berteduh sama Aldi di pondok kebun, nuggu ujan reda. Udah gak usah dijemput. Belum selesai nih belajarnya, ntar klo dah reda baru balik. Ok”.
“Ujannya makin deres aja mbak”,
“iya al mana baju basah neh”,
“klo basah yah dibuka dong ntar masuk angin loh”, canda gw
“enak di elu dong…hehe. Ayo dong al ajarin lagi”
Gwpun ngambil posisi disampingnya doi, bahu kami merapat. Sekalian buat menghangatkan badan. Lanjut gw neranginnya . Sangking semangatnya nerangin gak sengaja sikut gw nyenggol tuh toge. Empuk banget gan. Namun apa dinyana doi cuek bebek. Gw makin semangat ajah, satu tangan gw mulai agak merangkul ke pinggang doi sambil menerangkan ke doi yang lagi memfokus sebuah objek. Bibir gw sedikit gw deketin ke telinga doi… hmmm Algi bgt parfumnya. Dan tiba2 doi berbalik dan nih bibir mendarat mulus di pipi doi. Doi sedikit terpana dan gwpun demikian, sedikit tersadar gw : “ bilang maap mbak”. Doi : “ yah lo al nyantai aja gw yang salah kok” sambil doi elus pipi gw. Busyeeet mesra bgt neh pikir gw. Doi masih cuek bebek. Doi : “ wah ribet jg yah dunia fotogfrafi musti banyak belajar lagi neh”. Gw : “ga juga kok, klo ada keinginan pasti bisa mbak”. Doi tiba2 ngankat kedua tangannya untuk merenggangkan otot sambil menguap, keliatan tuh ketek mulus plus toge sebelah kiri dari samping. Hmmmm…. Pemandangan yang indah bgt, si Otongpun mulai beraksi gan.
Tiba2 doi bilang : “ al minta tolong pijetin pundak mbak neh, pegel bgt”… hihihi, girang plus tegang langsung aja tangan gw samperin tuh pundak, gw pijet2 lembut dan Nampak doi sangat menikmatinya, pake tutup mata segala dan disertai gumanan2 kecil. Si otong makin keras aja di dalam sangkar. Gw beralih ke sekitar lehernya. Doi :” enek bgt disitu al” badan doi sedikit bersandar di dada gw, biking w n otong makin nafsu aja gan. Panasnya nafsu makin menjalar di seluruh tubuhku.
Tangan doi kemudian kesamping untuk nyimpan kamdignya, kemudian doi pengen garukin punggungnya tanpa sengaja tuh tangan nyenggol si Otong. Doi sedikit terkejut, sambil tertawa kecil doi bilang : “ tau ujan2 gini, dingin pula terus mijitin cewek lagi. Tiba2 bangun2 aja sesuka hati ya al”… “eh…eh..hi” gw gelagapan “iya mbak”….
Guyonan2 kecil nan nakalpun mengalir waktu itu. Iseng doi Tanya : “ km dah punya pacar al?” . Gw. :”udah mbak”. Doi : “Ya wes km kawin ajalah tuh adik kamu dah haus belaian wRatmita rupanya..heheh”. Gw : “ Iyah sih mbak pengen bgt rasain tubuh kayak mbak.”gak sadar gw gan ngomongnya. Doi : “apa al??? “, Gw. : “ eh..eh maksdunya tubuh wRatmita” . Doi : “oooo… km klo pacaran ngapai aja??”. Gw : pura2 bingung. “maksudnya???”. Doi : “ yah ngapain aja, ciuman, petting, ml dsb”. Gw: kaget bgt denger pertanyaannya. “heheh, cm FK ajah mbak”. Doi : “ ah boong pasti grepe2 jg tangan km.” . GW : “iya seh dikit…heheh”
Entah setan apa yang nyembit gw tanpa sadar dan nafsu makin memuncak tiba2 gw peluk doi dari belakang tepat di bawah pangkal togenya. Doi tiba2 berontak. “al….al …jangan!!!” sedikit teriak doi membentak gw sambil ngelepasin pelukan gw. Gw kaget dong. Maap mbak gw kangen pacar. Terus gw mulai nyerang lagi. Sambil mengiba “plis mbak gw pengen peluk aja” . Mungkin karena kasihan dan doi jg butuh kehangatan doi pun bilang : “ya udah peluk aja yah jangan macem2”. Karena nafsunya sambil pelukin doi bibir gw nyuri2 ciumin tuh leher dan doi kegelian sambil sedikit teriak : “alll!!” dan tiba2 plakkkk!!!!! Tamparan mendarat dipipiku. Gw kaget lg. Muka doi memerah. Gw. : sambil meluk doi dari depan “maaf mbak, Aldi mau buat pengakuan”. Doi diam saja, nafasnya makin cepat sepertinya emosi memuncak. Mulailah gw ngakuin klo suka bgt dengan doi semenjak kemarin, “ntah ini nafsu ataupun masalah hati (sepertinya berat di nafsu gan), apa lagi kemarin di mobil mbak perlihatkan ke Aldi susu mbak, Aldi suka bgt mbak dan nafsu bgt ngelihatnya sampe2 tanpa sepengatuhan orang2 Aldi onRatmi di jok belakang. Tiba2 doi ngedorongin gw dan menutup matanya sambil menangis sesugukan. Doi : “ Harusnya gak boleh al, mbak kan sudah punya suami, kakak sepupu km sendiri. Tapi emang mbak salah juga”
Doi makin nangis aja tuh sambil ngejatuhin wajahnya ke pundak gw. (hmm..tampaknya mulai nyerahni), gw spik aja pelukin doi sambil ngelus punggung doi. Gw : “Iya mbak Aldi salah juga, gak bisa nahan nafsu Aldi”. Tangan gw ngelus kepala doi dan gw angkat dagunya, terus gw apusin tuh air mata dengan mesranya. Gw kecup matanya. Doi diem aja. Terus gw kecup lembut tuh bibir…..
waaaaaaaaaaawwwwwwww serasa gw diestrum dengan jutaan kilovolt listrik… serasa nikmat dan hangat, makin lama lidah gw mulai masukin ke rongga mulut doi, doi masih diam dan menutup mata. Tiba2 doi ngedorong gw. Doi :” udah an jangan di terusin”. Gw dah nafsu bgt neh. Gw tarik aja tuh kepala dan gw lumat tuh bibir dengan kasarnya. Doi gelagapan sedikit berontak…”blbbjhj..amkhj…al…nk gh dahhh”, gw makin dalem bgt kiss doi, hingga pertahanan doi melemah dan sedikit menikmati ciuman gw. Gw pun sadar dan berhenti. Kami saling berpandangan dan tiba2 mata doi sayu seperti mengharapkan bibirnya disentuh lagi. Perlahan nih bibir maju dan doipun memiringkan kepalanya siap menerima ciuman gw dan…. Mphhhh…..mphhh.mphhh…. kamipun saling melilitkan lidah dengan hangatnya, gw angkat tubuhnya dang w sandarin di dinding sambil tetap saling melumat. Tangan gw mengikuti alur pergumulan, perlahan namun pasti tangan kanan gw menjelajah diluar bajunya tepat di atas bukit kembar nan indah dengan sedikit remasan terasa tuh bukit awalnya terasa lembek namun lama kelamaan keras sekeras batu. Sadar doi makin terangsang nih tangan mulai masuk menjelajah di sekitar bra doi, gw turunin satu cupnya dang w pilin2 tuh pentil…. Hmm terasa kasar, keras dan berdiri tegak.
Gw. :” mbak sayang….Aldi pengen nenen”. Doi : tersenyum dan Cuma mengangguk pelan. Hujan yang makin keras makin ngedukung aja pergumulan kami. Gw mulai tiduran di pahanya dan doi mengangkat bajunya dan membuka kaitan bra di depanya. Mulai deh gw isep dan lumet th toge sampe2 asinya tumpah di mulut gw. Doi : melenguh kenikmatan “gimana al rasanya??” . GW : “ enak mbak, mRatmis.” Sambil tersenyum penuh kemenangan. Doi mulai deh sedikit aktif sambil gw nenen doi ngelus Otong dari luar. Doi : “ gede jg al punya km”, doi mulai nurunin celana gw dan mulai mengocok si Otong dengan perlahan. Gw bangkit dari tuh bukit kembar sambil ciumin bibr doi. Doi : “ enak say?? “ gw cm mengangguk. “yah wes mbak kocokin aja yah say”. Gw :”mbak mau diisepin” gw ngerengek sperti bayi. Doi: “ jangan say, ntar kelihatan” tapi gw paksa aja tuh kepala menuju batang perkasaku. Sedikit ragu, doi mulai membuka mulutnya dan memulai kuluman lembut di kepala Otong, sangat telaten. Pelan tidak terburu-buru dan yang gw suka, gak kena gigi gan. Doi tersenyum melihat mimik wajahku sampai Nampak Otong dah mau muncrat isepan doi dipercepat dan sepertinya semakin dalam menelan Otongku sayang… dan… arghhhhhh…. Mbak …enakhhhh bgt!!! Crot…crot…crot. Otong sukses CIM nya. Doi sdikit gelagapan karena kepalanya gw tahan. Terasa banyak bgt yang masuk kemulut doi. Gw Tanya : “spermanya mana mbak, perasan banyak nyemprotnya?” sambil perhatiin mulutnya. Doi nyubit aku “ dasar kamu al, ketelen semua!!!. Tapi kok mRatmis punya kamu an? Punya suami mbak agak asin jadi kadang bikin mual.” … gw : sambil tersenyum “ mungkin kemarin karena kebanyakan makan buah2an mbakku sayang”
Masih ujan ajah terpikir gw balesnya gimana neh. Doi masih bersih2hin mukanya pake tisu. Gw bersandar di bahunya. “mbak sayang Aldi pengen bales juga muasin mbak”. Doi : “ udah sayang nanti kita dicariin” tapi gw paksa aja, gw tarik celana nya sampai selutut dan gw cium2 tuh meki dari luar cdnya… baunya khas, namun harum bgt.
Terakhir gw tahu klo Doi ngerawat bgt daerah kewRatmitaannya dengan minum jamu2an dan rajin melakukan ratus vagina.
Doi sedikit melakukan perlawanan sambil mendorong kepala gw. Namun rasa nikmat yang dirasa mendadak mengendurkan perlawanan doi takkala bibir gw melumat klitoris doi. Doi sedikit melenguh, perlahan gw bangkit dan membuka perlahan cd doi, reflex ajah pantat doi diangkat biar gampang lepasnya. “Aldi isep yah mbak?”. Doi cuman mengangguk pasrah. Mulailah gue oral tuh meki berdasarkan pengalaman gue nonton bokep, semakin lama semakin basah. Isepan dilengkapi dengan tusukan satu jari gue kedalam meki doi, makin lama makin cepet. Hingga tak lama pertahanannya mulai lemah…. “ allll, mbak mau keluar sayaaaaaaaaaanggg!!!” dann.. tubuh doi mengejang hebat seperti terkena kejutan listrik berkali-kali sementara itu doi meki doi memancarkan cairan orgasme yang menembus kencang kerongkongan gw. Gw gelagapan, gw lepasin mulut gw dari mekinnya. Nampak cairan tersebut masih menyembur sedikit disertai dengan badan doi mengejang hebat.
Gw rebahan disamping doi, sambil mengecup mesra keningnya. “Makasih yah mbakku sayang”. “ iya al, mbak juga terima kasih dah lama gak ngrasain kayak gini. Thanks yah say” sambil doi mengecup mesra bibirku. Nampak Otong bangkit lagi dari peraduan. “hihihi… al, cepet bgt bangun lagi tuh”. “ mbak pengen rasain lobang yang di bawah” . “ udah an. Kita dah lama bgt ntar dicariin lagi”. Gw bangkit mulai mencoba memasukkan Otongku sayang. Doi reflex ngepit pahanya menutupi tuh meki. Sedikit memaksa gw buka pahanya dan gw masukin pelan tuh Otong… Hangat bgt, dasar mang enak, Otong serasa ada yang pijet, Otot2 mekinya memijit2 Otong dengan lembut. Baru aja 5 gerakan maju-mundur. Telepon Doi bunyi. Doi kaget dan kami reflex memakai baju kami… siaaaaaaaaallll kentang bgt!!!! Rupanya nenek menelepon katanya si Dino dah rewel pengen bobo. Ahhhh. Dasar Dino gak tau kami lagi asyik ajah. Mang ujangpun diserahin tugas menjemput kami, walopun ujan dah mulai reda, sambil membersihkan diri merapikan pondok biar gak ada yang curiga.
Di perjalanan pulang Doi cengengesan ajah ngeliat muka gw yang kusyut bgt… sambil berbisik “ nanggung nih yeee…hihih”. Kami sepayung berdua dan mang ujang ngikutin dari belakang. “ iyyya neh… urgghh ” bisik gw. “kasihan deh… cup2..sayang, nanti deh lanjut lagi”… “janji yah” kata gw. Dan doi cuman ngedipin matanya ke gw.
Malam harinya semua sudah berkumpul di ruang keluaraga, tawa membahana di ruang tersebut membangunkanku dari tidurku yang leleap karena kelelahan. Kulihat doi bersama nenek dan kak Dewi lagi bercengkrama bersama 2 anak doi dan tanpa mempedulikan keberadaanku. Nenek bun nyeletuk ” loh an, bru bangun? dah sana cuci muka n makan dulu”, ” iya nek, mau berendem air anget dulu nih, badan pegel semua “, ” ya wes mandi sana, tapi jangan lama2 ntar masuk angin lho”. gw mengangguk dan si doi tetep aja asik bermain dengan anak2nya tanpa sedikitpun melirik ke gw.
Selesai mandi dan makan kemudian gw keluar ke halaman menikmati bebrapa batang rokok… eh mang Ujang datang ngajakin ngobrol ngidal-ngidul hingga tanpa terasa hari dah larut. Dari dalam rumah nenek menyuruhku bangun dan beristirahat krn sudah larut. Sisa kopi terakhir yang dibuatin mang Ujang ku hirup kencang dan sebiji pisang goreng kucomot. “oke thanks gw istirahat dl”, “iya den sama2″. Ternyata mang Ujang pandai juga bercandanya. Masuk rumah semua sudah gelap saat melewati kamar doi iseng gw buka handelnya…. lho kok?!!! TERKUNCI LAGI.. arghhhhhhh!!!. Gw ke kamar gw berbaring di tempat tidur, udah 1 jam bolak-balik namun mata belum redup juga dan tiba2 si Otong pengen pipis (mungkin kebanyakan ngopi tadi). Karena kamar mandinya di ruang keluarga gwpun keluaar dan menuntaskan hasratt kebelet si Jonjon… Keluar kulihat di lampu kecil dapur yang remang menyala. Gw pikir mungkin mang ujang, gw ke dapur minta mang Ujang bangunin gw pagi2 eh ternyata doi lagi masak air buat termos susu anaknya. Dengan mengendap2 gw deketin doi yang hanya memakai daster tipis pendek di atas lutut. Gw peluk aja doi dari belakang dan tentu saja doi kaget bukan main dan berteriak, namun untung saja tangan gw dah membekap dl mulutnya. “maaaff mbak ini Aldi…heheh”, “ah.. an kamu bikin gw kaget ntar ada yang denger terus lihat kita gini gmana? dasar kamu!!”. Doi kesel bgt. Gw nyengir aja kayak kuda…heheh. “kangen kak” kata gw. ” kangen apa nanggung..heheh” heheh … gw nyengir lagi. terus aja gw peluk sambil ngeremes2 toketnya dari belakang yang ternyata tidak ditutupi bra (emang klo mw tidur bra doi dilepas). “gimana mbak adek dah tidur?” … “udah ini siapin air di termos, kali aja bangun tengah malem cari susu”… “ow.. ” . Iseng tangan gw yang satu ke arah mekinya dan mengusapnya dari luar. Doi melenguh…. gw angkat dasternya dan memasukkan tanganku ke balik CD doi.. hmm sedikit basah. “kak ******* disini yuk ” bisik gw.. “Al !!! jangan nekat ntar ketahuan gimana??!”.. “gak kok makanya pelan2″ gw pelorotin aja cd doi sampe lepas dan gw kantongin, gw balikin dan angkat dasternya terus gw isep2 tuh meki, lidah gw tusuk2 di lobangnya dan klitorisnya gw isep lembut. Doi cm bisa melenguh pelan dan menggigit bibir bawahnya.. Terasa sudah basah.. Gw balik tubuhnya terus gw suruh menunduk bersandar di atas meja marmer dapur (posisi DS), kolor gw turunin dan coba memasukkan si Jonjon… n eh..eh susah (maklum belum pengalaman apalagi posisi otong yang mendongak ke atas). Doi sadar dan mencoba membantu dg menggenggam Otong ke sarangnya dan… slleb..akhhirnya masuk jg… Gw diemin dulu dan terasa ada yang memijat2… otot rahim doi ternyata berkontraksi memijat (hmm efek jamu2an P. Madura neh). kemudian gw sodok2 pelan deh…. “al … ah..ah..ah, cepetan ntar ketahuan” bisik doi sambil mematikan tuh kompor karena air dah mendidih hebat. Gw cepetin aja gerakan gw dan tiba2 doi dorong perut aku.. ” Dah sayang dikamar aja, kakak ga konsen klo disini ” setelah merapikan dan memasukkan air ke termos kita menuju kamar doi..
Dikamar doi melihat anak2nya masih pules bgt. “Mainnya di bawah aja yah al”. Gw mengangguk dan mengambil selimut tebal dan bantal sebagai alas. Doi melepas dasternya dan berbaring di bawah, melihat bukit kembarnya langsung aja gw nenen dan remes2 sampai keras banget. Gw rasa dah cukup gw lebarin pahanya dan mulai memasukkan Otong. Dasar amatiran gerakan gw ga teratur bgt, Doi tersenyum “pelan2 aja dl say. Km blm pengalaman rupanya, sini biar kakak di atas. Klo km pengen keluar bilang yah?” dongkol juga rasanya ditegur gt(tp emang bener sih gw emang blm pengalaman..heheh). Gw rebahan dan doi mulai memposisikan WOT, setelah masuk doi mulai bergerak pelan namun pasti, sengaja doi gesekin mekinya ke bagian kepala hingga sedikit dibawah kepala Otong saja sehingga rangsangan ke Otong gak terlalu hebat namun diselingi dengan sodokan hingga ke pangkal ( sensasinya emang nikmat bung!). gerakan doi teratur dan seirama, uh toket terguncang-guncang seolah menyuruhku untuk meremasnya. Tak lama gw bangkit dan memeluknya “akhhh kak.. mw keluar”. doi mengelusi punggungku. napas kami ngos2an. “udah say km rebahan saja” sedikit kocokan meki doi, tiba2 jari doi menjepit pangkal batang si Otong (agak keras jg), posisi Otong masih keras di dalam meki doi. Satu jarinya mencubit pinggang gw(agak sakit jg) doi bilang “tahan yah biar konsen pengen muncret kamu buyar” sambil tersenyum. Setelah merasa cukup, doi mulai beraksi lagi mengulek-ngulek otong. (emang jitu juga tekniknya). Tak lama doi merasa pengen keluar… dan “arhhhh.” doi melenguh pelan dan tubuh doi mengejang hebat ke belakang. Gw bangkit dan memeluknya, pijetan otot rahimnya terasa berkedut-kedut. Kemudian doi tersenyum dan mulai bergoyang lagi dengan posisi masih gw peluk, makin lama makin cepet… “Kaakk maw keluarrr!!” , “tahan say kita barengan” sambil tangannya mencubit pingganggu, otomatis konsen buyar lagi. dan makin lama doi makin cepet aja menguleknya dan “arghhhhhhhh…” rupanya doi orgasm lagi, sambil mendorong tubuh gw tubuh doi mengejang… Indah bennner pemandangannya, karena nanggung dan pengen jg cepet dikeluarin tuh lahar gw posisiin MOT, doi masih geleng2 mungkin pengen bilang” jangan dulu an masih ngilu” tapi gw sosor aja dengan rpm tinggi, ngilu namun nikmat sih. terasa otot rahimnya masih bekedut-kedut sampai gw rasa pengen meledak… dan cret…cret..cret, otongpun menuntaskan lava panas ke dalam rahim doi..
Kemudian gw terjatuh ke dalam pelukan doi, Otong masih terbenam di dalam dan keluar dengan sendirinya. Gw berputar dan mengelus punggung dan dadanya yang masih ngos2an. Kami berpandangan dan tersenyum, kemudian aku kulum tuh bibir dengan lembutnya dan lama. Doi membelai rambut gw dengan mesranya. Tiba2 anaknya yang paling kecil sedikit gelisah, doi tiba2 bangkit dan segera membuat susu terus memakai lagi dasternya dan mulai mengeloni anaknya. Gw bangkit dan rebahan di belakangnya sambil memeluk mesra dan membelai rambut doi. Doi tersenyum menikmatinya dg mata tertutup. Sekitar setengah jaman kemudian tangan gw menyusur ke dalam daster meremas-remas toket doi sampai mengejang dan keras tuh pentil, Doi membuka mata dan tersenyum. Doi masih membelakangi dan tangannya menyusup ke dalam celana gw meraih Otong dan mengocok-ngocoknya. Gw nikmatin bener kocokannya… Gw bangkit dan doi berputar agak kaget karena si Otong sudah kuarahkan ke bibir doi. Doi sedikit menggeleng sambil tersenyum, sedikit melirik ke anaknya yang sudah terlelap lagi. Batang si otong di raihnya dan mulai mengarahkan ke mulut doi, kuluman dan isepan membuat rasa ngilu yang hebat.. arghh… telaten sekali oralan doi. kemudian gw tahan kepala doi dan mulai menyodok-nyodokkan penis gw ke mulutnya semakin cepat … dan tiba2 doi tahan perut gw dan berlanjut mengulet dan menghisap Penis gw…. dan creetttt—crett, jumlahnya tidak begitu banyak lagi namun masih bisa muncrat sampai ke kerongkongan doi. Doi sedikit tersedak, namun penis masih di mulut doi. Sambil menghisap-hisap seperti menghisap sedotan, lava Otong dibersihin sampe abis. Setelah itu gw cabut si otong dan berlutut di lantai disamping tempat tidur. Doi membelai mesra rambutku. “Udah ya”. Gw cuma mengangguk dan mengecup bibir doi. ” an, dah istirahat dl ke kamar kamu takut ketahuan say”, gw tersenyum dan mebelai rambut doi tak lupa kecupan mendarat di bibir doi, sempat juga doi memasukkan lidahnya. Sekitar setengah menit kami berpagutan lidah. Gw pun bangkit keluar menuju kamar gw dan tidur dengan nikmatnya….
Diposting oleh
Memek Basah
di
11.18
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Sex
Cerita Sex : Waktu Daftar Kuliah
Sabtu, 06 September 2014
Pengalaman ini terjadi sekitar 15 tahun yang lalu.
Saya baru saja lulus SMA dan sedang persiapan mendaftarkan diri ke perguruan tinggi.
Saya termasuk pria yang bertampang lumayan, cukup pintar, dan berperawakan sedang.
Panggil saja saya, Budi.
Selama di SMA, saya mempunyai kelompok teman yang selalu bermain bersama.
4 anak laki-laki dan 7 anak perempuan.
Sebagian besar teman-teman saya melanjutkan ke perguruan tinggi di luar negeri
karena memang sekolah saya termasuk sekolah elite di kota J yang menghasilkan siswa-siswi dengan hasil lulusan yang cukup baik.
Karena saya berasal dari keluarga ekonomi menengah, pilihan sekolah ke LN menjadi tidak mungkin.
Dari kelompok kami hanya tersisa 3 teman perempuan dan saya.
Kami bingung mau melanjutkan ke mana, tetapi akhirnya kami memutuskan untuk ke kota B yang mempunyai beberapa universitas swasta dan negeri yang cukup terkenal.
Saya, Rika, Nova, dan Jenni memutuskan untuk mendaftar bersama ke kota B. Di sinilah petualangan kami dimulai. Kami berkumpul bersama di rumah Jenni dan orang tuanya meminjamkan mobil mereka untuk kami pakai. Kami memang sering pergi berkelompok dengan meminjam mobil orang tua dan kadang sampai menginap beberapa hari di luar kota. Jadi pada saat kami pergi, orang tua teman-temanku tanpa curiga mengijinkan putri-putri mereka berangkat ke kota B dan menginap tiga malam di sana.
Sekalian liburan kata kami.
Perjalanan ke kota B berjalan lancar dan kami menghadapi ujian masuk dengan kepercayaan tinggi.
Maklum, kami semua termasuk berotak encer.
Sore hari kami setelah selesai ujian masuk, kami segera mencari penginapan yang terkenal dengan daerah sejuknya di sekitar kota B.
Kami menyelesaikan administrasi dan segera masuk ke kamar.
"Wah! Ternyata kamarnya besar juga yah! Ada ruang tamunya lagi," kataku.
"Budi, kamu tidur di sofa aja yah! Kita berdua ambil ranjangnya!" sahut Nova.
"Yah... Curang... kan baru kali ini saya menginap bareng perempuan dalam satu kamar! Siapa tahu...." komplainku.
"Maunya.." kata Jenni sambil mendorong diriku ke arah sofa.
Kami semua menjatuhkan pantat di sofa sambil melepas lelah. Setelah berbincang selama setengah jam mengenai soal-soal Ujian masuk tadi siang, kami pun bergantian mandi menyegarkan badan.
Kami pun memesan makan malam dari room service karena kami terlalu lelah untuk keluar mencari makan.
Rika akan menyusul besok pagi dan ketemuan di kota B. Dia sudah menghadapi ujian masuk seminggu lalu. Pilihan universitasnya berbeda.
Oh iya, saya belum menjelaskan penampilan teman-teman saya.
Rika : Gadis ini pemalu dengan badan kecil yang sangat indah. Saya tahu ini karena Rika sangat suka memakai baju yang menunjukkan lekuk badannya. Dadanya berukuran sedang saja, 34B (saya tahu setelah melihat BH-nya dan BH yang lain nanti). Kecil-kecil imut merupakan kesan yang diberikannya. Senyumnya manis sekali.
Nova: Gadis ini juga berbadan kecil tetapi dengan dada yang terlihat jauh lebih besar daripada milik Rika. 34C ukuran BHnya. Mulutnya kecil dengan bibir tipis yang memberikan senyum menggoda. Hampir semua anak laki-laki di sekolahku mengejar dia. Manis dengan dada besar. Siapa yang tidak tertarik?
Jenni: Gadis bertubuh jangkung yang senang memakai kaos longgar dan berjiwa bebas. Asyik diajak bertukar pikiran, pintar, dan sedikit tomboi. Senang sekali olahraga dan sangat jago bermain volley. Paling enak jadi lawan mainnya di lapangan. Posisiku sebagai tosser sering membuatku berada di depan net dan berhadapan muka dengan Jenni. Posisi siap menerima bola dan kaos longgarnya sering mengganggu konsentrasiku di lapangan.
Jenni : "Mau ngapain nih? Baru jam 6 sore kita dah selesai makan malam."
Nova : "Kita main kartu aja yuk"
Budi : "Memangnya bawa?"
Nova : "Bbawa kok. Rika, ayo dikeluarin. Kita main poker aja. Pakai uang bohongan aja. Biar seru ada taruhannya."
Kami pun bermain selama satu jam ketika Nova menyeletuk.
Nova : "Tidak seru nih.. bosan.. gimana kalau dibuat lebih seru?"
Budi : "Maksud kamu, Nov?"
Nova : "Strip poker!!"
"Gila kamu, Nov!"
Nova : "Kaga berani?"
Saya lagi terpatung dengan keberanian ide Nova.
Jenni : "Siapa takut? Berani kok walau ada Budi!"
Pipi saya jadi memerah dan berasa panas. Ada rasa malu juga.
Glek.. saya menelan ludah.. Ada kemungkinan dua gadis muda cantik akan telanjang di depanku.
Nova : "Berani tidak, Bud? Diam aja. Malu yah telanjang di depan cewek-cewek?'
Wah, otakku langsung berputar cepat. Harus memikirkan semua kemungkinan. Jangan sampai saya kalah dan tidak melihat gadis-gadis telanjang.
Budi : "Berani dong! Tapi nanti kalian curang, kaga berani buka beneran!"
Nova : "Kalo ada yang kaga berani buka, kita semua yang paksa buka! Setuju tidak?"
Kita semua menganggukkan kepala menandakan persetujuan.
Jantungku makin berdebar kencang dan kelaminku mulai mengeras karena kemungkinan kejadian di depan mata.
Budi : "Ya dah.. Aturannya gimana nih Nov?"
Nova : "Kita semua punya modal 1000. Taruhannya setiap kelipatan 10 dan paling besar 100. Kalau modal 1000 habis, gadaikan pakaian dengan harga 500. Setuju?"
Kami semua setuju.
Budi : "Kita main sampai kapan? Sampai satu orang bugil atau sampai semua bugil?"
Nova : "Sampai semua bugil dong! Biar adil!!"
Jenni: "Ok deh. Tapi kasihan Budi dong. Dia kan paling cuma punya 3 potong baju. maksudnya cuma kaos, celana dan celana dalam.
Kita cewek-cewek kan kelebihan BH."
Nova : "Iya yah... ya udah biar adil, kita semua lepas BH deh."
Nova langsung dengan cekatan melepas BH merah mudanya tanpa melepaskan kaos dan melemparkan BHnya ke mukaku.
Harumnya BH langsung memenuhi hidungku. Tanpa kusadari BH kedua pun mendarat di mukaku. Ini milik Jenni.
BH dengan warna cream kulit.
Hahahahaha... kamipun tertawa bersama.
Nova : "Ayo mulai! Sudah adil kan, Bud? Kita masing-masing cuma punya 3 modal."
Budi : "Sebentar.. pakaian yang sudah ditanggalkan bisa dipakai lagi ga?"
Nova : "Hmm... TIDAK BOLEH! Yang sudah lepas, tidak boleh dipakai lagi!"
Budi : "Kalau yang sudah bugil kalah lagi gimana? Kan modalnya habis!!"
Nova : "Banyak nanya yah kamu, Bud! Gimana Jen?"
Jenni : "Boleh dipegang-pegang deh sama yang menang. Dipegang-pegang selama 1 menit!"
Wah asyik nih peraturannya... tetapi otakku sudah mulai pindah ke kelamin nih..
"Pegang doang kaga seru ah, gimana kalo dadanya dihisap-hisap!"
Nova : "Ih kamu, Bud.... Mau dong!!" Dengan suara manisnya sambil melirik nakal ke arahku!"
Jenni dan Nova tertawa terbahak-bahak.
Nova : "Tapi kalau kamu yang sudah bugil dan kalah gimana, Bud? Saya hisap tititnya yah!!"
Jenni : "Wah saya juga mau hisap titit Budi!"
Benar-benar tidak disangka! 3 tahun bersama di SMA, saya tidak menyangka teman-temanku ini nakal juga.
Permainan pun dimulai.
Keahlianku bermain strip poker di komputer ternyata sangat bermanfaat.
Jenni segera kehilangan modal awal sehingga harus menggadaikan modal berikutnya.
Jenni hendak membuka celananya, tetapi dicegah oleh Nova.
Nova :"Wah kaga boleh sendiri yang nentuin buka celana. Budi, mau suruh Jenni buka apa?"
Wow, thanks Nova! Aku teringat kalau mereka sudah lepas BH, tentunya dengan melepas kaos, dada Jenni akan terbuka.
Budi : "Tentu saja kaos dong. Kapan lagi bisa lihat payudara dari dekat!"
Jenni dengan malu-malu mulai melepas kaosnya dan dengan segera menutupi puting payudaranya dengan satu tangan.
Saya terkesima dengan pandangan indah di depan mata. Animasi strip poker di permainan komputer tidak seindah
pemandangan di depan mata.
Nova : "Jen.. mana boleh ditutupin dadanya. Buka dong!"
Nova menggaet tangan penutup payudara dengan segera.
Jenni sedikit memberontak sambil memerah wajahnya. Jenni tertarik tangannya,
memperlihatkan payudara terbuka dan menggantung indah di depan wajahku. Glek.. saya menelan ludah.
Jenni : "Bud, tutup mulut dong.. Masa sampai menganga terbuka gitu melihat dada gue."
Jenni dan Nova tertawa. Ini membuat Jenni jadi relaks dan pasrah dadanya terpampang jelas.
Wah kalo mereka serius kayak gini, mendingan saya kalah saja. Mengingat kalau kalah terus, tititku akan dihisap selama 1 menit setiap kekalahan.
Hahahaha.. otakku kotor juga.
Maka dilanjutkanlah permainan. Dengan segera saya menjadikan diri telanjang.
Celana dalam saya buka perlahan-lahan memperlihatkan titit yang sudah mengeras sejak tadi.
Saat itu, Nova, dengan payudara montoknya pun tinggal celana dalam saja.
Kedua gadis ini memperhatikan celana dalamku dengan seksama sambil menahan napas menunggu tititku seluruhnya terlihat.
Nova : "Wah sudah keras yah, Bud! Bagus lho bentuknya!"
Budi : "Gimana tidak keras... ngelihat dua pasang payudara yang bagus-bagus!"
Rupa-rupanya Nova sudah tidak tahan lagi. Aku langsung ditabraknya dan tititku langsung dipegangnya.
Dengan gemas Nova mulai mengocok tititku sambil sesekali dijilatnya. Tentu saja saya tidak tinggal diam.
Tanganku mulai meremas-remas payudara Nova yang cukup besar.
Tidak cukup dengan remasan, akhirnya aku meraup payudara kiri dan mulai menghisapnya.
"Ahh.. Enak banget, Bud! Terus hisap.."
Sambil menghisap payudara Nova, tanganku mulai melepaskan celana dalamnya. Karena saya tidak mau melepaskan hisapan, tentu saja melepaskan celana dalam jadi lebih sulit. Nova membantu dengan melepaskan celana dalamnya sendiri.
Tititku yang menjadi lepas dari pegangan Nova, langsung disambut Jenni dengan kulumannya.
Mimpi apa semalam. Dua gadis sudah mengulum tititku.
Kami pun pindah ke ranjang. Saya berbaring di ranjang dengan titit menjulang langit.
Nova melanjutkan memberikan payudaranya untuk saya hisap dan Jenni kembali mengulum tititku.
Tangan saya mulai bergerilya ke vagina Nova. Basah. Licin.
Saya pun mulai menggesekkan jari ke clitorisnya. Licin sekali.
Nova pun mendesah dengan kenikmatan yang dialaminya di bawah.
Jenni yang melihat Nova mengalami kenikmatan, mengubah posisi pantatnya ke sebelah mukaku.
Badan jenjangnya memang membuat posisi hampir 69 tersebut sangat mudah terjadi.
Tanganku pun menggosok vagina Jenni yang juga sudah sangat basah. Tangan kiri di vagina Jenni, tangan kanan di vagina Nova.
Kukocok keduanya dengan kelembutan yang lama-lama bertambah cepat.
Jenni dan Nova blingsatan dibuatnya. Jenni berguncang hebat sampai melepaskan hisapan di tititku dan mengeluarkan lenguhan
panjang yang sangat seksi. Nova menyusul dengan teriakan yang tidak kalah seksinya.
Keduanya terjatuh di kiri kananku dengan lemasnya.
Aku yang sudah tegangan tinggi tidak mau tinggal diam. Aku menghampiri Nova dan membuka lebar-lebar selangkangannya.
Terlihat vagina bersih yang sangat indah. Bulu-bulu halusnya sangat seksi.
Aku mulai menggesekkan kepala tititku ke vagina Nova. Ah..... licin dan enak.
Belum pernah aku merasakan kenikmatan seperti ini.
Nova yang mulai merasakan kenikmatan, mulai bereaksi dengan menggerak-gerakkan pinggulnya mengikuti irama gesekan.
Nova semakin meracau..."Oohhh... aahhh... ohh..my... God.....Enak banget Bud"
"Terus Bud... Enak... ahhh...aahhHHH....AAAHHHHHH...Gila.. enak banget Titit lu Bud!! Gue dah sampe nih"
"Baru digesek aja dah enak gini yah, Bud... gimana kalo dimasukin yah? Masukin deh Bud.."
"Serius lu, Nov? Lu mau gue perawanin? Gue sih dah nafsu banget nih."
"Iya, Bud... Gue pengen ngerasain titit lu di dalam gue... di luar aja dah enak, apalagi di dalam."
Aku tidak pikir panjang lagi.. langsung berusaha merangsek ke dalam vagina Nova.
"Oww.. pelan-pelan Bud.. Sakit tahu!!"
"Ok, Nov.. gue pelan-pelan nih"
Pelan-pelan kepala titit gue mulai terbenam di vagina Nova.
Terasa mentok. Aku yang tidak pengalaman berpikir kok tidak dalam yah?
"Nov, udah masuk belom sih?"
Nova yang mulai meringis menahan sakit, "Kayaknya sih belom deh... tapi terusin aja."
"Lu yakin, Nov? Kayaknya lu kesakitan gitu."
"Terus aja, Bud. Gue pokoknya mau titit lu di dalam gue."
"Ya udah kalo gitu.. Gue terusin nih.."
Dengan tiga sodokan keras yang disertai rintihan Nova, akhirnya tititku masuk juga sepenuhnya.
"Wah.. Nova... kayaknya titit gue dah masuk semua nih"
"Iya.. Bud..." sambil menahan sakit "diam dulu, Bud.. jangan digerakin dulu..gue masih rada sakit.."
Ahh.. nikmatnya vagina perawan.. tititku berasa banget diremas-remas oleh vagina sempit Nova.
Tanpa kusadari, aku mulai menggerakkan pelan-pelan pantatku.
Keluar masuk secara perlahan.
Nova pun mulai bernafas secara teratur dan mulai menikmati kocokan lembut di vaginanya.
"Pelan-pelan yah Bud... masih sakit tapi dah mulai enak nih... vagina gue berasa penuh banget diisi titit lu"
Jenni yang dari tadi menonton menunjukkan ekspresi tidak percaya.
"Gila lu berdua.. beneran ngentot yah?"
Jenni pun mendekati TKP dan memperhatikan dengan seksama.
"Gila.. gila.. titit lu beneran masuk ke vaginanya Nova, Bud!"
"Iya Jen.. Enak banget vagina Nova.. gue bisa ketagihan ngentot nih."
Tiba-tiba ada keinginan yang luar biasa untuk segera sampai.. kupercepat goyanganku.
Nova pun semakin mendesah menggila. "Ahhh...Ohhh...Ahhh...Ohhh...Bud.. gue mau sampe lagi nih"
"Barengan Nov.. gue juga mau sampe.."
Di kepalaku tidak teringat lagi pelajaran Biologi, kalau sperma ketemu sel telur akan menghasilkan zygot yang akan berkembang menjadi bayi.
"Ayo.. Bud... kita bbaaareeennggg...."
Croootttt...croottt.. croottt...Tiga kali aku menyemprotkan mani ke rahim Nova.
Ahh... ini perasaan yang luar biasa... kenikmatan berhubungan badan dengan seorang gadis muda yang cantik.
Beda banget sama masturbasi. Hubungan langsung lebih nikmat. Aku langsung terjatuh lemas di sebelah Nova.
Jenni yang melihat pertunjukkan langsung bagaimana berreproduksi mulai mendekati tititku lagi dan menghisapnya dengan lembut.
Nafasku yang tersengal-sengal perlahan-lahan menjadi teratur seraya menikmati hisapan-hisapan Jenni.
Dikocoknya perlahan tapi pasti membuat tititku menjadi tegang kembali.
"Bud, jangan dimasukin yah. Ini pengen gue gesek-gesek ke vagina."
"Iya, Jen."
Jenni pun mengambil posisi WOT dan mulai menggesek-gesek vaginanya di atas tititku.
"Enak banget, Jen"
Goyangan lembut Jenni membuat payudaranya bergoyang-goyang secara anggun. Pemandangan yang sangat indah.
Jenni merupakan salah satu wanita impianku. Tinggi, berdada montok, atletis, senang bercanda, dan baik hati.
Sekarang dia sedang menggesekkan kelaminnya dengan kelaminku. Ah.. kepengen masukin d.
Segera kubalikkan posisi sehingga aku sekarang di atas.
Kakinya kubuka lebar-lebar. Terlihat vagina yang sangat indah. Bahkan lebih indah daripada punya Nova.
Mulus, hampir tanpa bulu. Warnanya pink dan telah basah mengkilap.
Tititku langsung berkedut-kedut melihatnya.
Kuarahkan tititku ke vaginanya.
"Bud, jangan dimasukkin yah!"
"Kenapa Jen? Sudah tidak tahan nih"
"Jangan Bud... jangan sekarang." suaranya lembut meluluhkan hati.
Entah kenapa aku berhenti memaksakan kepala tititku. Akhirnya aku hanya menggesek-gesekkan kepala tititku di muka vagina Jenni.
"Ah... iya Bud.. Begitu saja... gesek saja terus... Ahh... Ahhh"
Jenni mulai lebih relaks dan lebih melebarkan posisi kakinya.
Melihat itu, aku semakin cepat menggesekkan titit. Semakin cepat gesekan, semakin keras desahan Jenni.
"OOhhhh... AHhhhh..enak Bud... Teruss.. Terusss.. Lebih cepat lagi... Tee..teeeruussss.... AHHHHHH."
Jenni mendapatkan orgasmenya dan cukup banyak cairan O-nya yang keluar. Kasur menjadi basah sekali.
Aku melihat Jenni mengalami orgasme yang sangat seksi sampai aku terdiam terkesima.
Jenni cantik sekali...Aku benar-benar terpesona.. Sepertinya aku jatuh cinta dengan Jenni.
Nova yang telah cukup beristirahat dan melihat Jenni telah lemas mengambil alih situasi.
Dipegangnya tititku dan dikocoknya perlahan.
Tititku yang masih belum puas dengan Jenni membuat otakku segera beralih ke Nova dan menyuruhku untuk melampiaskannya ke Nova.
Lagi pula tititku bisa coblos ke dalam Nova.
Dengan segera kubalikkan Nova dan kucoba Doggy style di sebelah Jenni yang masih terbaring lemas.
Ternyata Doggy style memberikan sensasi yang berbeda. Rasanya tidak bisa dituliskan dengan kata-kata.. Hanya nikmat..
Walaupun Nova yang sedang aku sodok, tatapanku tidak lepas dari Jenni. Jenni membuka matanya dan menatapku dengan penuh kemesraan.
Senyumnya yang manis membuat hatiku bingung.
Di sini aku sedang jatuh cinta dengan Jenni, tetapi tititku sedang menikmati pelayanan Nova, dan Jenni tersenyum kepadaku.
Ah bingung.....
Aku pun tersenyum balik ke Jenni sambil semakin keras menyodok Nova.
Sodokan kerasku yang terus bertubi-tubi dari belakang membuat Nova tidak dapat menahan diri lagi dan dia mendapatkan orgasme lagi.
Aku memperlambat sodokanku agar Nova bisa menikmati orgasmenya.
Jenni bangun dan memberikan payudaranya ke mukaku.
"Hisap Bud! Biar lu tambah seru!"
Ah.. nikmatnya tetek Jenni.. Kenyal tetapi kencang.
Tentu saja akibat tetek Jenni yang nikmat, goyanganku ke Nova semakin bertambah cepat.
"Gila lu Bud, enak banget sih dientot dari belakang sama lu... gue.. mauuuuu... Ahhhhh..." Nova pun orgasme lagi.
Aku pun tidak tahan nikmatnya menghisap tetek Jenni sambil doggy ke Nova dan akhirnya.. croott...croott... dua kali aku semburkan spermaku.
"Bud enak banget disemprot elu... Rasanya nikmat.. kayak mandi air hangat.. tapi ini rasanya di dalam.'
Posisi kami belum berubah.. aku masih menancapkan titit ke dalam vagina Nova sambil terus menyemprotkan sisa-sisa sperma
dan mulutku terus mengulum, menghisap dan menggigit-gigit payudara Jenni.
"Enak yah Bud, isap tetek gue dan ngentot-in Nova"
"Iya Jen! Cuma impian bisa threesome kayak gini tapi gue bisa ngerasain kejadian benernya."
"Udah dong Bud, cabut titit lu. Pegel nih nungging melulu" timpal Nova.
Kucabut tititku tetapi pandanganku terus menatap mata Jenni. Kelihatannya aku benar-benar jatuh cinta.
Malam itu kami tidur bertiga dalam keadaan bugil. Jenni di kananku, Nova di kiriku.
******
Tok tok tok.. Pintu kamar hotel diketuk.
Nova yang telah bangun lebih dulu membuka pintu dan Rika terlihat telah sampai dihantar oleh orangtuanya.
"Eh.. Rika" Nova panik "Bokap Nyokap lu mana?"
"Tenang Nova, mereka cuma menghantarku kok.. tadi langsung jalan lagi ke kota C."
"Wah... lega.. gue pikir mereka mau masuk ke dalam."
"Memangnya kenapa Nov? Eh... lu kok kaga pake BH?"
"Itu dia Rik.. takut ketahuan.. Gue kemaren berhasil nih"
"Berhasil apaan sih, lu?"
"Gue kasih perawan gue ke Budi!!"
"Haahh?? Yang bener lu? Jenni juga? Kita semua kan memang kepengen banget dientot Budi!!"
"Jenni belum.. masih perawan dia.. kayaknya takut.. tapi udah main juga sama si Budi, cuma belum dimasukin aja."
"Gue jadi horny nih, Nov. Budi di mana? Mau gak yah dia?"
"Masih tidur tuh.. lu bangunin aja.. laki-laki kalo dikasih perawan mana ada yang nolak."
"Hahahaha...bener juga lu!"
"Tuh lihat, Rika. Ada yang menonjol di selimut. Dia masih telanjang lho. Kita kemaren tidur begitu gayanya."
"Jenni mana, Nov? Kok kaga ada?"
"Lagi di kamar mandi. Tuh lu urus si Budi aja. Pagi-pagi dah tegak gitu. Lu hisap aja dulu tititnya."
Rika pun menghampiri ranjang dan segera menarik selimut sehingga tititku terbuka dengan leluasa.
Aku yang masih tidur tidak sadar apa yang sedang terjadi hanya mengetahui kalau tititku mengalami kenikmatan.
Perlahan-lahan kubuka mataku berpikir Nova atau Jenni sedang mengulum si junior.
"Hah? Rika? Ngapain lu?" tanyaku tanpa berusaha melepaskan diri. Lagi enak kok masa melarikan diri. Betul gak?
"mmlammggii hissmmmaaapp mttiimmtiitttmm mmlu" Jawab Rika dengan tidak melepaskan muatan di mulutnya.
"Hahahaha" Nova tertawa geli. "Lanjutin aja Rik, si Budi kaga nolak tuh.. cuma ngeliatin lu sambil merem melek gitu."
Jenni yang mendengar tertawanya Nova, segera melongok keluar dan cukup kaget melihat Rika sedang mengulum tongkat kenikmatanku.
"Eh.. Rika... baru sampe langsung sarapan aja nih" tukas Jenni dengan nada yang menunjukkan kekagetan.
Jenni keluar dari kamar mandi sambil masih mengeringkan rambutnya.
Body Jenni memang luar biasa. Aku tidak bisa melepaskan pandangan dari tubuh langsing dengan payudara yang sempurna itu.
"Budi.. jangan ngeliatin gue aja dong.. Rika dah nafsu tuh... puasin gih... kayak lu puasin kita berdua kemarin. Iya gak Nov?"
"Iya Jen.. Ayo Bud.. Puasin Rika.. Perkosa dia.. hahahaha.."
"Kaga usah diperkosa.. orang gue mau secara sukarela kok" timpal Rika.
Mendengar jawaban Rika, aku segera beraksi.
Kucium bibirnya dan kami melewatkan beberapa menit melampiaskannya sambil bertukar air liur.
Rika badannya kecil sehingga dengan mudah kuangkat dari tepi ranjang dan meletakkannya di ranjang.
Kudekati Rika dan menciumnya lagi. Kali ini tanganku tidak tinggal diam. Payudara Rika aku pijat dan remas-remas halus.
Kaos ketatnya segera kubuka memperlihatkan tetek mungil yang kencang. Pentilnya telah keras menjulang ke atas.
Pentil yang bagus dan segera kulumat.
"Ohh.. enak banget Bud.. terus Bud....aahhh.. ahhh.." Rika meracau kenikmatan.
Hisapan dan kulumanku pun bertambah keras. Tititku sudah sangat kencang sekali.
Dengan sedikit agak kasar kulepaskan semua pakaian yang masih melekat di Rika.
Wow.. ternyata Rika mempunyai bulu jembut yang sangat lebat.
Lebat tapi terlihat sangat rapi dan terawat.
Kudekati vaginanya dan tercium wangi vagina yang merangsang.
Tapi Jenni punya lebih wangi.
Ah.. Jenni lagi.. ini ada gadis yang sukarela memberikan perawannya, kok masih mikirin perempuan lain.
Kulirik Jenni dan kulihat dia tersenyum penuh pengertian.
Kujilat vagina Rika sambil terus melihat Jenni. Jenni pun tersenyum terus dan memberikan anggukkannya seakan-akan mengerti
kalau aku sedang bertanya bolehkan aku menjilat memek perempuan lain.
"
Ohh...oohhh... enak banget Bud.. baru dijilat aja gue dah kayak gini.."
"Suruh Budi ngentotin elu, Rik... Pelan-pelan yah Bud.. Kemaren gue cukup sakit lho" Nova menghangatkan suasana.
"Iya Bud.. masukin dong buruan."
"Yakin lu, Rik?" Aku bertanya kepada Rika tetapi tatapanku kembali ke Jenni. Jenni pun mengangguk kembali.
Aku pun segera membuka lebar selangkangan Rika. Vagina Rika terlihat sangat imut, karena memang Rika orangnya cukup kecil.
Tinggi badannya hanya di bawah bahuku sedikit.
Perlahan-lahan aku dorong tititku ke dalam vagina Rika. Rika yang sudah sangat basah hanya bisa mendesah.
Kepala tititku sudah masuk sepenuhnya tetapi seperti ketemu tembok.
"Siap Rika? Ini dah di depan selaput dara nih. Tinggal gue sodok masuk"
Entah kenapa sekali lagi aku melirik ke Jenni dan Jenni pun tersenyum kembali. Senyum yang sangat manis.
"Iya Bud.. sodok aja.. perkosa gue.. bikin gue hamil.. gue mau anak dari lu." Rika sudah lupa daratan.
Kupegang pinggul Rika dengan erat dan kudorong dengan penuh kekuatan. Blesss.. masuk sudah.
Rika menitikkan air mata menahan sakit.
"Lanjut Rik?"
"Iya Bud. Dah mulai terbiasa nih. Rasanya penuh banget vagina gue"
Proses menyetubuhi Rika pun segera berlangsung. Keluar.. masuk...keluar...masuk..pelan-pelan tetapi pasti vagina Rika semakin basah.
"Gila....Enak..banget....Tahu gini... dari kemaren... gue...ikutan...nginep...."Rika semakin larut dalam kenikmatan.
"Ohh...ooohh...enak... aahh.. terus.. Bud.. yang cepat.. Bud!"
Kuturuti kemauannya. Semakin cepat aku menggoyang Rika, payudaranya pun semakin liar tergoncang-goncang.
"Bareng yah Rika.. gue juga dah mau nyemprot.."
"Ayo Bud.. bikin gue hamil.. semprot yang banyak...AAARRRHHHH"
Kami berdua pun orgasme luar biasa. Vagina Rika memeras semua sperma yang ada di tititku.
Kucabut tititku dan terlihat tetesan darah perawan merembesi sprei.
Noda darah perawan Rika dan Nova terlihat bersebelahan. Wah aku harus membeli sprei ini dari hotel. Kenang-kenangan pikirku.
Jenni menghampiriku dan menciumku di bibir dengan ciuman yang sangat lembut.
Tiba-tiba ada perasaan bersalah di hatiku. Sepertinya Jenni tahu karena dia bilang,
"Tidak apa-apa Bud. Kita semua memang ingin menikmati titit lu."
dan kemudian dia menciumku lagi. Ciuman yang penuh mesra.
Nova mengganggu ciuman kami dengan mengambil tititku dan menghisapnya. Jenni mengganguk kembali dan merebahkan tubuhku.
Nova terus menikmati permainannya di bawah. Jenni menduduki kepalaku dan memberikan vaginanya untuk kuhisap. Ah.. nikmatnya memek Jenni.
Kujilat dan kujilat terus sambil kami terus bertatapan mata. Aku benar-benar jatuh cinta.
Pagi itu aku digilir tiga perempuan cantik. Jenni tetap hanya meminta digesek-gesek saja. Nova dan Rika berhasil membuatku menyemprotkan
sperma di dalam mereka sebanyak dua kali. Kami baru selesai ketika kami sudah kelelahan dan kelaparan. Sudah waktunya makan siang.
Epilog:
Kami berempat berhasil masuk universitas di kota B dan sepakat untuk mengontrak rumah untuk tinggal bersama.
Orang tua kami tidak ada yang curiga. Mereka pun setuju mengontrak rumah lebih enak daripada kos-kosan.
Bisa masak dan cuci baju sendiri. Tidak takut ada barang yang hilang.
Empat tahun kuliah, sehari pasti minimal sekali aku menyetubuhi salah satu dari tiga wanita cantik tersebut.
Dengan Jenni, selalu hanya gesek-gesek. Dengan Rika dan Nova, tentunya celup-celup dong.
Tidak ada yang hamil karena kami menghitung kalendar dengan sangat disiplin.
Sesudah lulus pun kami masih sering berkumpul untuk "bermain".
Nova bertemu dengan suaminya di tempat kerja.
Rika bertemu dengan suaminya di kuliah S2.
Jenni akhirnya menjadi isteriku. Perawannya baru diberikan pas malam pernikahan.
Kami berdua punya dua orang anak.
Jenni sering mengundang Nova dan Rika untuk bermalam di rumah kami.
Saking seringnya, aku berhasil menghamili Nova dan Rika.
Anak kedua Nova dan anak ketiga Rika mirip sekali denganku.
Untung suami mereka tidak pernah ada yang curiga. Alasannya karena sering bergaul denganku, jadi mirip deh anaknya.
Diposting oleh
Memek Basah
di
16.57
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Cerita Sex
Langganan:
Postingan (Atom)

